Bayangkan sebuah komunitas yang jejak perjalanannya dipercaya telah dimulai lebih dari enam abad lalu. Pusat kampungnya beberapa kali berpindah, namanya berubah, dan setiap generasi menghadapi tantangan yang berbeda.
Namun, satu hal tetap bertahan: hubungan erat dengan padi, leluhur, alam, dan aturan adat. Itulah gambaran singkat jejak Kasepuhan Ciptagelar sejak tahun 1368.
Angka tersebut kerap disebut dalam publikasi pemerintah, penelitian akademik, serta penuturan masyarakat sebagai awal perjalanan leluhur komunitas Pancer Pangawinan.
Meski begitu, kita perlu membacanya secara hati-hati. Tahun 1368 lebih tepat ditempatkan sebagai kronologi adat dan ingatan kolektif, bukan langsung dianggap sebagai tanggal berdirinya Kampung Ciptagelar yang sekarang dikenal.
Ciptagelar sendiri baru menjadi pusat kasepuhan pada awal 2000-an. Sebelumnya, masyarakat telah melalui rangkaian perpindahan panjang dari wilayah Bogor, Lebak, hingga Sukabumi.
Kini, perjalanan tersebut berlanjut dengan nama Kasepuhan Gelar Alam. Ceritanya bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi perjalanan menjaga identitas di tengah perubahan zaman.
Apa Makna Tahun 1368 dalam Sejarah Ciptagelar?
Bappeda Jawa Barat menyebut adat dan tradisi Kasepuhan Ciptagelar telah diwariskan sejak 1368 M.
Sebuah kajian etnografi dalam Jurnal Permukiman juga menempatkan permukiman pertama komunitas leluhur Ciptagelar di Cipatat Urug pada tahun tersebut. Kajian itu menyebut Ciptagelar sebagai kasepuhan ke-19 dalam rangkaian permukiman mereka.
Namun, angka 1368 tidak berarti Kampung Ciptagelar di Sukabumi sudah berdiri dengan nama dan lokasi yang sama sejak masa itu. Nama Ciptagelar baru digunakan berabad-abad kemudian, setelah pusat kasepuhan berpindah dari Ciptarasa ke Cikarancang.
Dalam sumber-sumber yang tersedia, tahun 1368 lebih banyak hadir melalui pengetahuan lokal, penelitian etnografi, dan publikasi yang merujuk pada penuturan komunitas.
Belum terlihat bukti berupa prasasti atau dokumen sezaman yang dapat menyusun kronologi setiap tahun sejak abad ke-14. Karena itu, penyebutan “sejak 1368” sebaiknya dipahami sebagai awal silsilah perjalanan adat menurut memori kolektif masyarakat.
Cara membaca seperti ini tidak mengurangi nilainya. Tradisi lisan justru penting karena menjadi cara masyarakat adat menyimpan sejarah, identitas, dan hubungan antargenerasi ketika catatan tertulis tidak menjadi sarana utama.
Cipatat Urug dan Akar Pancer Pangawinan
Kajian mengenai pola permukiman Ciptagelar menyebut Cipatat Urug sebagai permukiman awal yang dibangun pada 1368.
Komunitas leluhur ini dikenal sebagai Pancer Pangawinan, kelompok masyarakat yang kehidupan, ruang, dan kepercayaannya sangat dipengaruhi oleh budaya padi. Situs resmi Kasepuhan Gelar Alam juga menempatkan Tarikolot Cipatat di Bogor sebagai titik awal perjalanan.
Dalam catatan lokal tersebut, Pancer Pangawinan kemudian berkaitan dengan beberapa kelompok kasepuhan di wilayah Banten dan Sukabumi, termasuk Citorek, Cicarucub, dan garis perjalanan yang kini diteruskan oleh Gelar Alam.
Istilah Pancer Pangawinan memiliki makna filosofis. Pancer berarti pusat, sedangkan pangawinan dipahami sebagai tempat penyelarasan atau pertemuan dua unsur dalam kosmologi Sunda.
Jadi, identitas kelompok ini tidak hanya ditentukan oleh asal wilayah, tetapi juga oleh gagasan tentang keseimbangan.
Sejak awal, kehidupan mereka berhubungan erat dengan budidaya padi huma atau padi ladang. Pertanian bukan hanya kegiatan mencari makan. Ia membentuk aturan sosial, ritual, tata ruang, cara membaca alam, dan hubungan masyarakat dengan karuhun.
Hubungan dengan Pajajaran dalam Tradisi Lisan
Cerita asal-usul Kasepuhan Ciptagelar sering dikaitkan dengan Kerajaan Sunda Pajajaran dan sosok Prabu Siliwangi.
Bappeda Jawa Barat mencatat adanya keterikatan sejarah yang diyakini masyarakat, sedangkan penelitian UIN Banten menjelaskan bahwa warga menghubungkan leluhur mereka dengan lingkungan kerajaan Sunda di Bogor.
Bagian ini perlu dibaca sebagai tradisi lisan, bukan kronologi politik yang seluruh detailnya telah terverifikasi.
Ada jarak waktu antara angka 1368 dan keruntuhan Pakuan Pajajaran pada akhir abad ke-16. Karena itu, kurang tepat bila seluruh perjalanan sejak 1368 langsung dijelaskan sebagai pelarian setelah runtuhnya Pajajaran.
Yang lebih aman adalah memahami bahwa masyarakat memiliki dua lapisan ingatan sejarah. Pertama, kronologi adat yang menempatkan awal perjalanan pada 1368. Kedua, narasi kekerabatan dan identitas yang menghubungkan komunitas dengan Pajajaran serta Prabu Siliwangi.
Bagi masyarakat adat, hubungan tersebut bukan sekadar soal silsilah biologis. Cerita Pajajaran juga menjadi sumber legitimasi moral untuk menjaga amanat leluhur, sistem pertanian, pusaka, wilayah, dan tata kehidupan yang telah diwariskan.
Ngalalakon: Berpindah Bukan Berarti Kehilangan Akar
Salah satu kunci memahami jejak Kasepuhan Ciptagelar adalah tradisi ngalalakon. Secara sederhana, ngalalakon berarti menjalankan lakon atau perjalanan yang diperintahkan melalui wangsit kepada Abah sebagai pemimpin adat.
Dalam penelitian etnografi, ngalalakon dijelaskan sebagai tradisi memindahkan pusat permukiman. Perpindahan tidak hanya berkaitan dengan bangunan fisik, tetapi juga dipercaya menjadi proses memperbaiki dan menyempurnakan kehidupan komunitas.
Ketika pusat baru dibuka, lokasi lama tetap menjadi tari kolot atau jejak permukiman terdahulu yang mempunyai hubungan budaya dengan pusat kasepuhan.
Artinya, perpindahan tidak sama dengan meninggalkan sejarah. Setiap tempat justru menjadi bagian dari jaringan ingatan. Kampung lama menyimpan makam, situs, hubungan keluarga, lahan, dan cerita yang terus dihormati.
Leuit Jimat mempunyai peran penting dalam proses tersebut. Lumbung komunal ini bukan hanya tempat menyimpan padi, tetapi simbol kesinambungan kasepuhan.
Kehadirannya di pusat permukiman baru memperlihatkan bahwa budaya padi ikut dibawa dan ditegakkan kembali di lokasi berikutnya.
Jejak Perpindahan dari Bogor, Lebak, hingga Sukabumi
Penelitian UIN Banten merekam cerita perjalanan melalui sejumlah tempat. Setelah Cipatat di Bogor, riwayat perpindahan menyebut Lebak Larang, Lebak Binong, Tegal Lumbu, Cicadas, Bojong Cisono, dan Cicemet.
ute tersebut melintasi kawasan yang sekarang termasuk Kabupaten Bogor, Lebak, dan Sukabumi.
Memasuki periode yang lebih dekat dengan masa kini, kronologinya menjadi lebih mudah diikuti. Pusat kasepuhan disebut berpindah ke Cikaret atau Sirnaresmi pada 1957, kemudian ke Ciganas atau Sirnarasa pada 1972.
Pada 1982, pusatnya berada di Lebak Gadog atau Linggarjati, lalu berpindah ke Datar Putat yang dikenal sebagai Ciptarasa pada 1983.
Rangkaian nama tersebut menunjukkan bahwa sejarah Kasepuhan bukan garis lurus menuju satu kampung permanen. Wilayah adatnya terbentuk dari perjalanan antartempat yang saling terhubung.
Perpindahan juga dipahami sebagai cara menapaktilasi dan mengurus wilayah adat yang tersebar di sekitar Pegunungan Halimun. Dengan begitu, pusat boleh berpindah, tetapi hubungan dengan kampung-kampung pengikut dan wilayah lama tetap dipertahankan.
Lahirnya Ciptagelar pada Awal 2000-an
Jurnal Permukiman mencatat permukiman Ciptagelar resmi dihuni pada 12 April 2000. Sementara itu, penelitian UIN Banten menerangkan bahwa kawasan tujuan awalnya bernama Cikarancang dan namanya diubah menjadi Ciptagelar melalui selamatan kampung pada 2001.
Dua keterangan ini dapat dipahami sebagai tahapan berbeda: mulai menempati lokasi baru dan peresmian nama kampung.
Perpindahan dipimpin oleh Abah Anom atau Encup Sucipta dari pusat sebelumnya di Ciptarasa. Sejumlah unsur penting kasepuhan ikut dihadirkan kembali, termasuk Leuit Si Jimat, pangkemitan, pangnyayuran, serta tempat penyimpanan dan pementasan wayang golek.
Nama Ciptagelar mengandung semangat keterbukaan. Penelitian UIN Banten menjelaskannya sebagai kampung yang diciptakan secara terbuka, bersedia memperlihatkan diri kepada dunia luar, tetapi tetap berpegang pada tatali paranti karuhun.
Inilah salah satu babak penting dalam sejarahnya. Ciptagelar semakin dikenal oleh peneliti, jurnalis, wisatawan, komunitas budaya, dan pemerintah.
Keterbukaan tersebut tidak berarti semua aturan menjadi longgar. Justru, masyarakat berusaha menunjukkan bahwa adat dapat berinteraksi dengan dunia modern tanpa kehilangan kendali atas nilai dasarnya.
Budaya Padi sebagai Benang Merah Enam Abad
Tempat tinggal dapat berubah, tetapi padi tetap menjadi pusat kehidupan. Bappeda Jawa Barat menyebut seluruh sendi adat Ciptagelar berkaitan dengan kalender siklus padi.
Dalam kehidupan masyarakat, padi diperlakukan bukan sekadar komoditas, melainkan bagian dari hubungan spiritual dengan Nyi Pohaci Sanghyang Asri.
Rangkaian pertanian melahirkan berbagai ritual, mulai dari persiapan benih, penanaman, pemeliharaan, panen pertama, penyimpanan, hingga Seren Taun.
Mongabay mendokumentasikan bahwa Seren Taun menjadi penutup siklus tersebut sekaligus ungkapan syukur atas hasil pertanian dan keseimbangan alam.
Masyarakat menanam padi satu kali dalam setahun dan menyimpannya di leuit. Padi tidak diposisikan sebagai barang yang bebas diperjualbelikan.
Prinsip tersebut membentuk sistem ketahanan pangan yang berpusat pada penyimpanan, penghematan, gotong royong, serta keberlanjutan benih lokal.
Di sinilah jejak sejak 1368 terasa paling nyata. Bukan pada bangunan yang tidak berubah selama ratusan tahun, tetapi pada pengetahuan dan nilai yang terus dipraktikkan, disesuaikan, lalu diwariskan.
Tradisi yang Mampu Berdampingan dengan Perubahan
Kasepuhan Ciptagelar sering menarik perhatian karena tidak menempatkan adat dan teknologi sebagai dua musuh.
Masyarakat dapat menggunakan listrik, media komunikasi, serta perangkat modern untuk kebutuhan tertentu, sementara pengolahan padi dan ritual tetap mengikuti ketentuan adat.
Sikap tersebut sejalan dengan makna keterbukaan dalam nama Ciptagelar. Teknologi diterima melalui proses penyaringan: apakah bermanfaat, apakah merusak keseimbangan, dan apakah bertentangan dengan amanat leluhur.
Pelajaran praktisnya cukup relevan bagi masyarakat luas. Melestarikan tradisi tidak harus berarti membekukan kehidupan seperti museum. Sebaliknya, menerima modernisasi juga tidak mewajibkan sebuah komunitas membuang seluruh identitasnya.
Ketahanan budaya muncul ketika masyarakat memahami mana nilai inti yang harus dijaga dan mana alat baru yang dapat dimanfaatkan. Ciptagelar memperlihatkan bahwa perubahan dapat dikelola, bukan sekadar ditolak atau diterima begitu saja.
Dari Ciptagelar Menuju Kasepuhan Gelar Alam
Perjalanan tidak berhenti di Ciptagelar. Situs resmi komunitas menyebut Kasepuhan Gelar Alam sebagai pergantian nama dari Kasepuhan Ciptagelar dan mencatat bahwa pusat ini merupakan kelanjutan perjalanan sejak 1368.
Sumber tersebut juga menyebut telah terjadi 20 kali perpindahan berdasarkan wangsit.
Sebelumnya, penelitian tahun 2016 menyebut Ciptagelar sebagai kasepuhan ke-19. Dari dua keterangan tersebut, Gelar Alam dapat dipahami sebagai babak berikutnya dalam tradisi ngalalakon setelah Ciptagelar.
Kesimpulan tersebut sesuai dengan urutan sumber, meskipun rincian seluruh 20 lokasi tidak selalu ditampilkan secara lengkap dalam publikasi terbuka.
Pergantian nama bukan berarti identitas Ciptagelar hilang. Nama itu tetap penting karena menjadi salah satu fase paling dikenal dalam perjalanan komunitas.
Banyak orang masih menggunakan istilah Ciptagelar untuk merujuk pada masyarakat, budaya, dan warisan yang kini dilanjutkan di Gelar Alam.
Pada akhirnya, jejak Kasepuhan lebih tepat dipahami sebagai sejarah yang bergerak. Kampungnya dapat berpindah dan namanya dapat berganti, tetapi budaya padi, kepemimpinan Abah, gotong royong, serta hubungan dengan karuhun tetap menjadi porosnya.
Jejak Kasepuhan Ciptagelar sejak tahun 1368 adalah kisah panjang tentang ingatan, perpindahan, dan keteguhan budaya.
Tahun 1368 perlu dipahami sebagai bagian dari kronologi adat yang menempatkan Cipatat Urug sebagai titik awal, bukan sebagai tahun berdirinya Kampung Ciptagelar di Sukabumi.
Melalui tradisi ngalalakon, pusat kasepuhan bergerak dari Bogor dan Lebak menuju sejumlah kampung di Sukabumi, kemudian memasuki fase Ciptarasa, Ciptagelar, dan kini Gelar Alam.
Di sepanjang perjalanan itu, budaya padi menjadi benang merah yang menyatukan kehidupan sosial, spiritual, dan lingkungan.
Mari mengenal sejarah ini dengan sikap hormat. Saat membaca, menulis, atau berkunjung, tempatkan masyarakat Kasepuhan sebagai pemilik budaya yang hidup-bukan sekadar objek wisata masa lalu.
FAQ
1. Apakah Kasepuhan Ciptagelar benar-benar berdiri pada 1368?
Tahun 1368 dikenal sebagai awal perjalanan leluhur Kasepuhan menurut kronologi adat dan sejumlah kajian etnografi. Kampung bernama Ciptagelar sendiri baru muncul pada awal 2000-an.
2. Di mana permukiman awal leluhur Ciptagelar?
Sejumlah penelitian menyebut Cipatat Urug atau Tarikolot Cipatat di wilayah Bogor sebagai titik awal perjalanan komunitas Pancer Pangawinan.
3. Mengapa pusat Kasepuhan sering berpindah?
Perpindahan merupakan bagian dari tradisi ngalalakon yang dilakukan berdasarkan wangsit kepada pemimpin adat. Tujuannya tidak hanya mencari tempat tinggal, tetapi juga menjalankan amanat dan menjaga wilayah adat.
4. Apa hubungan Ciptagelar dengan Ciptarasa?
Ciptarasa merupakan pusat kasepuhan sebelum perpindahan menuju Cikarancang. Lokasi baru tersebut kemudian dikenal dengan nama Ciptagelar.
5. Apakah Ciptagelar sekarang bernama Gelar Alam?
Ya. Situs resmi komunitas menyebut Kasepuhan Gelar Alam sebagai kelanjutan dan pergantian nama dari Kasepuhan Ciptagelar.