Nama sebuah tempat biasanya lahir dari kondisi alam, tokoh pendiri, atau peristiwa yang pernah terjadi di wilayah tersebut. Namun, nama Ciptagelar memiliki cerita yang lebih dalam.
Nama ini bukan sekadar penanda sebuah kampung adat di Sukabumi, melainkan bagian dari perjalanan spiritual dan tugas budaya masyarakat Kasepuhan.
Asal-usul nama Ciptagelar berkaitan erat dengan perpindahan pusat Kasepuhan dari Kampung Ciptarasa menuju wilayah baru di Desa Sirnaresmi pada awal 2000-an.
Perpindahan itu dilakukan setelah pemimpin adat menerima petunjuk leluhur yang dikenal sebagai wangsit. Menariknya, sejumlah sumber memberikan penjelasan yang sedikit berbeda mengenai arti Ciptagelar.
Ada yang mengartikannya sebagai “terbuka atau pasrah”, ada pula yang memaknainya sebagai usaha menciptakan kampung adat yang terbuka. Penjelasan lain menekankan kata gelar sebagai tindakan memperlihatkan kembali ajaran leluhur.
Perbedaan tersebut tidak selalu saling bertentangan. Justru, semuanya membantu kita memahami bahwa nama Ciptagelar memiliki lapisan makna yang berkaitan dengan keterbukaan, kepatuhan, dan pelestarian tradisi.
Ciptagelar Bukan Sekadar Nama Kampung
Ciptagelar dikenal sebagai salah satu pusat masyarakat adat Kasepuhan Banten Kidul. Secara administratif, pusat kampung ini berada di wilayah Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, di sekitar kawasan Pegunungan Halimun-Salak.
Kata kasepuhan berasal dari kata bahasa Sunda sepuh, yang berarti tua atau orang yang dituakan. Dalam konteks masyarakat adat, istilah tersebut mengacu pada komunitas yang menjalankan aturan, tata kehidupan, dan kebiasaan warisan para leluhur.
Karena itu, nama Ciptagelar tidak dapat dipisahkan dari identitas Kasepuhan. Ia bukan hanya menunjukkan lokasi tempat warga tinggal, tetapi juga mewakili arah perjalanan komunitas, tugas kepemimpinan adat, dan nilai yang hendak dijalankan pada masa tersebut.
Bagi masyarakat modern, nama kampung umumnya bersifat tetap. Di lingkungan Kasepuhan, pusat pemerintahan adat dapat berpindah mengikuti wangsit yang diterima oleh Abah atau pemimpin adat.
Nama baru kemudian hadir sebagai penanda dimulainya lakon, tanggung jawab, dan babak perjalanan yang baru.
Dari Kampung Ciptarasa Menuju Ciptagelar
Sebelum menggunakan nama Ciptagelar, pusat Kasepuhan berada di Kampung Ciptarasa, Desa Sirnarasa. Abah Anom, yang bernama Encup Sucipta, memimpin komunitas tersebut sebelum memindahkan pusat kampung menuju wilayah Desa Sirnaresmi.
Dalam banyak rujukan, perpindahan ini berlangsung pada 2001. Buku terbitan Bantenologi UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten menyebut Kampung Ciptarasa melakukan “hijrah wangsit” sekitar Juli 2001 menuju Desa Sirnaresmi, dengan jarak perjalanan belasan kilometer.
Lokasi tujuan berada di Kampung Sukamulya, wilayah yang kemudian menjadi pusat Kasepuhan dengan nama baru, yaitu Ciptagelar. Nama tersebut diberikan langsung oleh Abah Anom sebagai pemimpin tertinggi adat ketika itu.
Perpindahan tersebut bukan berarti seluruh warga meninggalkan tempat lama secara bersamaan. Sebagian masyarakat tetap tinggal di kampung sebelumnya, sementara pusat kegiatan adat, keluarga pemimpin, para tokoh adat, dan sejumlah fasilitas penting dipersiapkan di lokasi baru.
Kondisi ini menunjukkan bahwa Ciptagelar bukan kampung yang muncul begitu saja. Ia merupakan kelanjutan dari Ciptarasa dan mata rantai dari perjalanan panjang pusat Kasepuhan di kawasan Sukabumi, Bogor, serta Lebak.
Hijrah Wangsit sebagai Awal Lahirnya Nama Ciptagelar
Untuk memahami asal-usul nama Ciptagelar, kita perlu mengenal istilah hijrah wangsit. Secara sederhana, istilah ini merujuk pada perpindahan pusat Kasepuhan berdasarkan petunjuk yang dipercaya berasal dari para karuhun atau leluhur.
Wangsit diterima oleh pemimpin adat melalui proses spiritual dan ritual tertentu. Dalam pandangan komunitas, petunjuk tersebut bukan sekadar saran yang boleh dijalankan atau diabaikan.
Wangsit merupakan amanat yang harus dilaksanakan sebagai bentuk kesetiaan terhadap aturan adat. Sumber dari IPB menjelaskan bahwa Abah Anom telah menerima petunjuk perpindahan sebelum 2001.
Setelah melakukan persiapan dan mencari wilayah yang dianggap sesuai, ia bersama keluarga, tokoh adat, serta sebagian masyarakat berpindah menuju kampung di lereng Gunung Ciberene yang kemudian diberi nama Ciptagelar.
Perjalanan seperti ini sering dikaitkan dengan konsep ngalalakon, yaitu menjalankan lakon atau tugas yang telah diterima. Perpindahan bukan semata-mata aktivitas fisik dari satu permukiman ke permukiman lain, tetapi juga dimulainya tanggung jawab baru.
Oleh sebab itu, pemberian nama Ciptagelar perlu dilihat sebagai bagian dari tugas tersebut. Nama baru menandai apa yang harus dijalankan, diperlihatkan, dan diwariskan oleh komunitas pada fase kehidupan berikutnya.
Arti Kata “Cipta” dalam Nama Ciptagelar
Secara umum, kata cipta berkaitan dengan kegiatan menciptakan, membentuk, atau menghadirkan sesuatu. Namun, dalam konteks nama Ciptagelar, kata tersebut juga mempunyai hubungan khusus dengan nama Abah Anom, yaitu Encup Sucipta.
Salah satu publikasi IPB menerangkan bahwa kata Cipta dalam Ciptagelar merujuk pada Sucipta sekaligus membawa pengertian menciptakan. Sementara itu, kata Gelar dimaknai sebagai terbuka.
Berdasarkan penjelasan tersebut, Ciptagelar dapat dipahami sebagai upaya menciptakan sebuah kasepuhan atau kampung adat yang terbuka bagi warga sendiri maupun masyarakat luar.
Penafsiran ini terasa masuk akal jika melihat perubahan yang berlangsung setelah pusat Kasepuhan berada di Ciptagelar. Komunitas semakin dikenal oleh peneliti, wisatawan, jurnalis, akademisi, pemerintah, dan masyarakat umum.
Keterbukaan tersebut bukan berarti adat bebas diubah oleh pihak luar. Masyarakat tetap memiliki aturan yang wajib dihormati, terutama dalam urusan pertanian, padi, kawasan hutan, bangunan adat, dan pelaksanaan ritual.
Dengan demikian, kata cipta dapat dibaca sebagai proses aktif. Masyarakat bukan hanya mempertahankan warisan lama, tetapi juga menciptakan ruang agar kebudayaan tersebut dapat terus hidup di tengah perubahan zaman.
Arti Kata “Gelar”: Terbuka, Pasrah, dan Memperlihatkan
Kata gelar menjadi unsur yang paling banyak melahirkan penafsiran. Buku mengenai budaya masyarakat Kasepuhan Ciptagelar menerangkan bahwa Ciptagelar berarti “terbuka atau pasrah”.
Makna terbuka berkaitan dengan hubungan komunitas dengan dunia luar, sedangkan sikap pasrah dapat dipahami sebagai kepatuhan terhadap wangsit leluhur.
Namun, terdapat penjelasan lain yang memperluas makna tersebut. Berdasarkan keterangan seorang tokoh yang diwawancarai BandungBergerak, kata gelar secara linguistik dapat berarti memperlihatkan atau menunjukkan.
Dengan pengertian itu, tugas Ciptagelar adalah “menggelarkan” kembali tatanan tradisi yang diwariskan oleh para karuhun.
Tradisi yang sebelumnya lebih banyak dijalankan di lingkungan internal diperlihatkan agar warga Kasepuhan semakin mengenal akar budayanya dan masyarakat luar dapat mempelajarinya secara benar.
Kata gelar dalam bahasa sehari-hari memang dapat menggambarkan sesuatu yang dibuka, dibentangkan, atau ditampilkan. Ibarat tikar yang digelar agar orang dapat duduk bersama, adat juga “digelar” supaya dapat dilihat, dikenal, dan dipahami.
Akan tetapi, keterbukaan ini tetap memiliki batas. Tidak semua ritual boleh didokumentasikan secara bebas, tidak seluruh pengetahuan adat dapat disebarkan, dan pengunjung harus mengikuti arahan masyarakat setempat.
Mengapa Ada Beberapa Penjelasan tentang Arti Ciptagelar?
Ketika mencari arti nama Ciptagelar, pembaca mungkin menemukan beberapa versi.
Satu sumber menyebut “terbuka atau pasrah”, sumber lain menjelaskan “menciptakan kampung yang terbuka”, sedangkan penuturan lainnya menghubungkan nama tersebut dengan tugas memperlihatkan tradisi leluhur.
Perbedaan ini sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai pertentangan. Nama dalam kebudayaan adat sering mempunyai makna berlapis. Penjelasannya dapat dilihat dari sisi bahasa, sejarah kepemimpinan, pengalaman spiritual, maupun tugas sosial komunitas.
Dari sisi sejarah, unsur cipta berhubungan dengan Abah Encup Sucipta yang memberikan nama tersebut. Dari sisi tindakan, cipta berarti menciptakan atau menghadirkan tatanan kehidupan.
Sementara itu, gelar dapat menunjuk pada keterbukaan, kepasrahan terhadap amanat karuhun, serta usaha memperlihatkan kembali kebudayaan. Ketiga pengertian tersebut saling menguatkan ketika ditempatkan dalam konteks perjalanan masyarakat.
Secara sederhana, makna Ciptagelar dapat dirangkum sebagai usaha menciptakan atau menjalankan sebuah pusat Kasepuhan yang terbuka, sambil tetap patuh kepada amanat leluhur dan memperkenalkan tatanan adat kepada generasi berikutnya.
Keterbukaan yang Tetap Berakar pada Adat
Makna keterbukaan dalam nama Ciptagelar terlihat dari cara masyarakat menerima kedatangan pihak luar. Penelitian, kegiatan pendidikan, kunjungan budaya, dan dokumentasi kehidupan masyarakat dapat dilakukan selama mengikuti aturan yang berlaku.
Publikasi IPB mencatat bahwa masyarakat luar dapat datang untuk berwisata, melakukan penelitian, bekerja, bahkan tinggal di lingkungan Kasepuhan. Namun, mereka tetap memiliki kewajiban menghormati nilai budaya, terutama ketentuan yang berkaitan dengan sistem pertanian.
Sikap terbuka juga terlihat dari pemanfaatan teknologi. Masyarakat adat tidak menolak listrik, alat komunikasi, radio, televisi komunitas, maupun internet. Akan tetapi, teknologi digunakan secara selektif dan tidak otomatis diterapkan dalam seluruh kegiatan adat.
Di bidang pertanian, misalnya, warga tetap menggunakan benih padi lokal dan mengikuti tahapan ritual yang diwariskan turun-temurun. Kehidupan mereka berpusat pada siklus padi, mulai dari persiapan lahan hingga penyimpanan hasil panen di leuit.
Inilah bentuk keterbukaan yang memiliki prinsip. Ciptagelar menerima pengetahuan baru tanpa merasa harus meninggalkan identitas lamanya.
Bagi masyarakat luas, pendekatan tersebut memberikan pelajaran penting. Menjadi modern tidak selalu berarti menghapus tradisi, sementara menjaga budaya tidak harus dilakukan dengan mengisolasi diri dari perkembangan dunia.
Nama Ciptagelar sebagai Tugas Budaya
Nama Ciptagelar dapat dipandang sebagai pengingat mengenai tugas yang harus dijalankan oleh masyarakat Kasepuhan. Tugas itu bukan hanya mempertahankan upacara, pakaian, rumah tradisional, atau kesenian, tetapi juga menjaga tatanan kehidupan secara menyeluruh.
Tatanan tersebut mencakup penghormatan terhadap padi, pengelolaan hutan, gotong royong, kepemimpinan adat, ketahanan pangan, dan hubungan antara manusia dengan alam. Bagi warga, padi bahkan dipandang sebagai bagian dari kehidupan, bukan semata-mata barang dagangan.
Ketika adat “digelar”, masyarakat luar dapat melihat bahwa kearifan lokal bukan sekadar cerita masa lalu. Ia masih digunakan untuk menjawab kebutuhan nyata, seperti menjaga persediaan pangan, melindungi sumber air, dan memperkuat solidaritas sosial.
Namun, proses memperlihatkan tradisi juga membawa tantangan. Semakin terkenal sebuah kampung adat, semakin besar kemungkinan kebudayaannya dipandang hanya sebagai tontonan atau daya tarik wisata.
Karena itu, memahami makna Ciptagelar menjadi penting. Pengunjung seharusnya tidak hanya datang untuk mengambil gambar, tetapi juga belajar menghormati nilai yang hidup di balik bangunan, ritual, dan aktivitas masyarakat.
Nama yang Bergerak Bersama Perjalanan Kasepuhan
Dalam tradisi Kasepuhan, sebuah nama tidak selalu digunakan untuk selamanya. Pusat pemerintahan adat dapat kembali berpindah ketika pemimpin menerima wangsit baru. Perpindahan tersebut membawa lakon, visi, dan tanggung jawab yang berbeda.
Hal ini memperlihatkan bahwa Ciptagelar merupakan bagian dari perjalanan, bukan titik akhir. Sebelum Ciptagelar terdapat Ciptarasa dan beberapa pusat permukiman lain. Dalam publikasi yang lebih baru, perjalanan komunitas juga dibahas dalam kaitannya dengan Gelar Alam.
Meski pusat kampung dan penyebutannya dapat berubah, nama Ciptagelar tetap memiliki tempat penting dalam sejarah masyarakat adat. Nama tersebut mewakili masa ketika Kasepuhan semakin terbuka dan dikenal luas tanpa meninggalkan aturan para karuhun.
Ciptagelar akhirnya tidak hanya menjadi nama geografis. Ia menjadi simbol bahwa adat dapat diperlihatkan kepada dunia, selama prosesnya tetap dikendalikan dan dimaknai oleh masyarakat pemilik budaya itu sendiri.
Asal-usul nama Ciptagelar berawal dari perpindahan pusat Kasepuhan dari Ciptarasa menuju Desa Sirnaresmi sekitar 2001. Nama itu diberikan oleh Abah Anom atau Encup Sucipta setelah menjalankan hijrah wangsit sebagai bentuk kepatuhan terhadap petunjuk leluhur.
Maknanya memiliki beberapa lapisan. Cipta dapat berarti menciptakan dan berkaitan dengan nama Sucipta, sedangkan gelar dapat dimaknai terbuka, pasrah, atau memperlihatkan.
Secara keseluruhan, Ciptagelar menggambarkan sebuah Kasepuhan yang membuka diri sekaligus menjalankan tugas untuk memperlihatkan kembali tradisi karuhun.
Mari mengenal Ciptagelar bukan hanya dari keindahan kampungnya, tetapi juga dari nilai budaya yang menyertainya. Saat berkunjung, hormati aturan masyarakat dan jadikan perjalanan tersebut sebagai kesempatan untuk belajar.
FAQ
1. Apa arti nama Ciptagelar?
Ciptagelar dapat dimaknai sebagai menciptakan kampung adat yang terbuka. Sumber lain mengartikannya sebagai terbuka atau pasrah, serta tugas memperlihatkan kembali tradisi leluhur.
2. Siapa yang memberikan nama Ciptagelar?
Nama Ciptagelar diberikan oleh Abah Anom atau Encup Sucipta, pemimpin adat yang memimpin perpindahan pusat Kasepuhan dari Ciptarasa.
3. Kapan nama Ciptagelar mulai digunakan?
Nama tersebut mulai digunakan setelah perpindahan pusat Kasepuhan dari Ciptarasa menuju Desa Sirnaresmi, yang dalam banyak rujukan disebut berlangsung pada 2001.
4. Mengapa masyarakat berpindah dari Ciptarasa?
Perpindahan dilakukan berdasarkan wangsit atau petunjuk leluhur yang diterima oleh pemimpin adat. Perjalanan ini dikenal sebagai hijrah wangsit.
5. Apakah Ciptagelar terbuka untuk pengunjung?
Ya, masyarakat menerima kunjungan wisata, penelitian, dan kegiatan pendidikan. Namun, pengunjung tetap wajib menghormati aturan adat dan mengikuti arahan warga setempat.