Di tengah Pegunungan Halimun yang hijau, terdapat sebuah masyarakat adat yang mampu mempertahankan tradisi leluhur sekaligus memanfaatkan teknologi modern.
Masyarakat tersebut dikenal luas sebagai Kasepuhan Ciptagelar, salah satu komunitas adat Sunda yang berada di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Berbicara tentang sejarah Kasepuhan Ciptagelar bukan hanya membahas kapan sebuah kampung dibangun.
Ceritanya juga berkaitan dengan perjalanan panjang masyarakat adat, perpindahan pusat permukiman, kepemimpinan turun-temurun, budaya pertanian, serta hubungan manusia dengan alam.
Di Ciptagelar, padi tidak sekadar dianggap sebagai bahan makanan. Padi menjadi bagian dari kehidupan spiritual, sosial, dan budaya masyarakat.
Pada saat yang sama, warga tidak sepenuhnya menolak perubahan. Mereka menggunakan listrik, internet, radio, bahkan memiliki media televisi komunitas sendiri.
Perpaduan tersebut membuat Ciptagelar menarik untuk dipelajari. Komunitas ini menunjukkan bahwa menjaga adat tidak selalu berarti menutup diri dari dunia luar.
Mengenal Kasepuhan Ciptagelar di Sukabumi
Kasepuhan Ciptagelar merupakan bagian dari kelompok masyarakat adat Kasepuhan Banten Kidul. Pusat komunitasnya selama bertahun-tahun dikenal berada di wilayah Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, tidak jauh dari kawasan Pegunungan Halimun-Salak.
Kata kasepuhan berasal dari kata bahasa Sunda sepuh, yang berarti tua atau orang yang dituakan. Dalam konteks ini, kasepuhan dapat dipahami sebagai komunitas yang menjalankan aturan, nilai, dan tata kehidupan yang diwariskan oleh para leluhur.
Masyarakatnya tidak hanya tinggal di satu kampung. Warga Kasepuhan tersebar di berbagai permukiman yang berada di wilayah Sukabumi, Bogor, hingga Lebak. Kampung gede berfungsi sebagai pusat kegiatan adat dan tempat kedudukan pemimpin utama komunitas.
Kehidupan warga sangat berkaitan dengan pertanian, terutama budidaya padi. Kalender adat, upacara, pembagian tugas, hingga pengelolaan lingkungan mengikuti siklus pertanian yang sudah dijalankan secara turun-temurun.
Akar Sejarah Kasepuhan Ciptagelar
Menurut penuturan adat dan sejumlah publikasi pemerintah, perjalanan komunitas ini dihitung sejak sekitar tahun 1368.
Akan tetapi, angka tersebut sebaiknya dipahami sebagai bagian dari sejarah yang hidup dalam ingatan kolektif dan tradisi masyarakat, bukan semata-mata sebagai tanggal pendirian kampung permanen seperti dalam administrasi modern.
Dalam cerita turun-temurun, leluhur masyarakat Kasepuhan dikaitkan dengan Kerajaan Sunda Pajajaran. Tradisi lisan menyebutkan bahwa sebagian pengikut kerajaan berpindah ke berbagai daerah setelah pusat kekuasaan Pajajaran mengalami keruntuhan.
Mereka kemudian menjalani perjalanan panjang melintasi wilayah yang sekarang termasuk Bogor, Lebak, dan Sukabumi. Beberapa nama tempat yang disebut dalam riwayat komunitas antara lain Jasinga, Lebak Binong, Cipatat, Tegal Lumbu, Cicadas, Bojong Cisono, serta Cicemet.
Perlu dipahami bahwa kisah hubungan dengan Pajajaran berasal dari tradisi lisan masyarakat yang diwariskan antargenerasi.
Karena itu, detail perjalanan tersebut dapat berbeda antara satu sumber dengan sumber lainnya. Namun, cerita ini tetap penting karena menjadi dasar identitas dan pandangan hidup warga Kasepuhan.
Tradisi Berpindah Kampung dan Hijrah Wangsit
Salah satu bagian paling menarik dari perjalanan masyarakat adat Ciptagelar adalah tradisi memindahkan pusat kasepuhan. Perpindahan ini bukan dilakukan karena warga tidak betah atau sekadar mencari lokasi yang lebih nyaman.
Dalam kehidupan adat, perpindahan pusat kampung berkaitan dengan petunjuk leluhur yang diterima oleh pemimpin Kasepuhan. Tradisi tersebut dikenal sebagai hijrah wangsit atau dalam beberapa penjelasan disebut sebagai bagian dari proses ngalalakon.
Wangsit dipercaya dapat diterima melalui mimpi, ritual, perenungan, atau tanda tertentu. Setelah pemimpin adat menyampaikan keputusan, masyarakat akan bergotong royong mempersiapkan tempat baru.
Sejumlah bangunan dan benda adat ikut dipindahkan. Salah satu yang terpenting adalah Leuit Si Jimat, yaitu lumbung padi komunal yang dianggap sebagai warisan para karuhun.
Selain itu, fasilitas seperti dapur bersama, tempat penyimpanan perlengkapan kesenian, dan bangunan pendukung kegiatan adat juga dibangun kembali.
Perpindahan bukan berarti memutus hubungan dengan tempat lama. Lokasi sebelumnya tetap menjadi bagian dari wilayah adat dan perjalanan sejarah masyarakat.
Dengan cara tersebut, perpindahan justru menjadi sarana untuk merawat hubungan dengan kawasan yang pernah ditempati leluhur.
Perjalanan dari Ciptarasa Menuju Ciptagelar
Sebelum dikenal sebagai Ciptagelar, pusat Kasepuhan berada di Kampung Ciptarasa. Pada sekitar tahun 2001, Abah Anom atau Encup Sucipta memimpin perpindahan dari Ciptarasa menuju kawasan Cikarancang di Kampung Sukamulya, Desa Sirnaresmi.
Lokasi tersebut awalnya hanya dihuni oleh beberapa rumah. Setelah proses perpindahan dan selamatan kampung dilaksanakan, tempat baru itu diberi nama Ciptagelar.
Nama tersebut memiliki makna yang cukup dalam. Kata cipta dikaitkan dengan menciptakan, sedangkan gelar dapat diartikan sebagai memperlihatkan, menghamparkan, atau membuka diri.
Ciptagelar kemudian dimaknai sebagai kampung yang diciptakan secara terbuka. Masyarakatnya mulai lebih aktif berhubungan dengan dunia luar, menerima tamu, bekerja sama dengan peneliti, serta memperkenalkan kebudayaan mereka tanpa meninggalkan aturan leluhur.
Prinsipnya bukan mengganti adat dengan kehidupan modern, melainkan memilih hal-hal baru yang bermanfaat. Tradisi tetap menjadi fondasi, sedangkan keterbukaan menjadi cara untuk memperkuat keberadaan masyarakat adat.
Kepemimpinan Abah Anom dan Abah Ugi
Pemimpin tertinggi Kasepuhan biasa dipanggil Abah. Perannya lebih luas daripada kepala kampung karena mencakup urusan adat, sosial, pertanian, spiritual, dan hubungan masyarakat dengan pihak luar.
Abah Anom memiliki peran besar dalam pembentukan Ciptagelar. Selain memimpin perpindahan dari Ciptarasa, ia juga mendorong pembangunan fasilitas yang dapat meningkatkan kemandirian warga.
Salah satu inovasi yang dirintisnya adalah pembangkit listrik tenaga air. Upaya tersebut sudah dimulai ketika pusat Kasepuhan masih berada di Ciptarasa. Pembangunan dilakukan secara gotong royong dengan memanfaatkan aliran sungai di kawasan pegunungan.
Setelah Abah Anom meninggal dunia pada 2007, kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya, Ugi Sugriana Rakasiwi, yang dikenal sebagai Abah Ugi.
Meskipun saat itu usianya relatif muda, ia menjalankan tanggung jawab sebagai pemimpin adat dan melanjutkan program kemandirian komunitas.
Di bawah kepemimpinannya, pemanfaatan teknologi komunikasi berkembang semakin luas. Namun, aturan utama yang berkaitan dengan padi, upacara adat, dan penghormatan terhadap alam tetap dipertahankan.
Padi sebagai Pusat Kehidupan Masyarakat Adat
Bagi warga Kasepuhan Ciptagelar, padi tidak dipandang semata-mata sebagai komoditas ekonomi. Padi merupakan simbol kehidupan, kesuburan, keberlanjutan keluarga, dan hubungan manusia dengan Sang Pencipta.
Masyarakat umumnya menanam padi satu kali dalam setahun. Mereka menggunakan varietas lokal yang telah diwariskan dari generasi sebelumnya serta menyesuaikan masa tanam dengan kalender dan tanda-tanda alam.
Proses pertanian dilakukan secara hati-hati. Penggunaan pestisida sangat dibatasi, sementara alat pertanian modern seperti traktor tidak digunakan dalam bagian-bagian tertentu dari proses budidaya adat.
Padi yang telah dipanen disimpan dalam lumbung tradisional yang disebut leuit. Bentuknya berupa bangunan panggung yang dirancang agar padi terlindungi dari kelembapan dan gangguan hama.
Sebuah penelitian IPB mencatat bahwa rumah tangga yang diteliti rata-rata memiliki dua leuit dengan kapasitas gabungan sekitar 2,46 ton padi.
Angka tersebut merupakan gambaran pada periode penelitian, tetapi memperlihatkan besarnya peran lumbung keluarga dalam menjaga persediaan pangan.
Leuit Si Jimat sebagai Lumbung Bersama
Selain lumbung milik keluarga, terdapat Leuit Si Jimat yang berfungsi sebagai lumbung komunal. Padi di dalamnya dapat membantu warga apabila mengalami kekurangan pangan.
Leuit Si Jimat juga menjadi tempat pelaksanaan sejumlah ritual. Ketika pusat Kasepuhan berpindah, lumbung tersebut menjadi salah satu unsur adat yang harus ikut dipindahkan atau dibangun kembali.
Sistem ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan di Ciptagelar tidak hanya bergantung pada hasil panen. Ada mekanisme penyimpanan, pembagian, gotong royong, serta aturan yang mencegah persediaan habis terlalu cepat.
Seren Taun dan Rangkaian Tradisi Pertanian
Budaya padi di Ciptagelar dijalankan melalui berbagai tahapan ritual. Setiap tahap menandai hubungan antara manusia, tanah, air, benih, dan hasil panen.
Beberapa tradisi yang dikenal antara lain ngaseuk saat mulai menanam, mipit ketika mengambil padi pertama, nganyaran saat menikmati hasil panen baru, dan ngadiukeun ketika menempatkan padi ke dalam leuit.
Puncaknya adalah Seren Taun, upacara syukuran setelah berakhirnya satu siklus pertanian. Acara ini menjadi momen penyerahan dan penyimpanan hasil panen sekaligus ungkapan rasa syukur atas rezeki yang diterima.
Seren Taun biasanya disertai kegiatan kesenian, pertemuan warga, penyambutan tamu, penyajian makanan, dan berbagai ritual adat. Bagi masyarakat, acara tersebut bukan sekadar festival wisata, melainkan bagian penting dari kewajiban budaya.
Karena terbuka untuk pengunjung, Seren Taun juga menjadi ruang pertemuan antara masyarakat adat dan dunia luar. Meski demikian, tamu tetap perlu menghormati aturan, area sakral, serta arahan dari warga setempat.
Menjaga Hutan dan Keseimbangan Alam
Kearifan lokal Kasepuhan Ciptagelar juga terlihat dalam pengelolaan hutan. Secara umum, masyarakat mengenal pembagian kawasan menjadi leuweung titipan, leuweung tutupan, dan leuweung garapan.
Leuweung titipan merupakan kawasan yang harus dijaga dan tidak boleh dibuka sembarangan. Leuweung tutupan berfungsi sebagai kawasan perlindungan atau cadangan, sedangkan leuweung garapan dapat dimanfaatkan untuk sawah, kebun, dan kebutuhan masyarakat.
Pembagian tersebut membuat pemanfaatan alam memiliki batas yang jelas. Tidak semua lahan boleh dijadikan area produksi, sekalipun secara fisik dapat dibuka.
Bagi masyarakat Kasepuhan, menjaga hutan berarti menjaga sumber air, kesuburan tanah, dan keberlangsungan pertanian. Alam tidak dianggap sebagai objek yang bebas diambil manfaatnya, tetapi sebagai bagian dari kehidupan yang harus dipelihara.
Ketika Tradisi Bertemu Teknologi Modern
Ciptagelar sering dianggap sebagai contoh menarik karena tradisi dan teknologi berjalan berdampingan. Warga menggunakan teknologi berdasarkan kebutuhan, bukan sekadar mengikuti tren.
Radio Swara Ciptagelar mulai dikembangkan pada 2004 sebagai sarana penyampaian informasi kepada warga. Beberapa tahun kemudian, hadir Ciga TV yang menayangkan dokumentasi kegiatan adat, informasi pertanian, hiburan, dan kehidupan masyarakat.
Kebutuhan listrik dipenuhi antara lain melalui pembangkit mikrohidro yang memanfaatkan aliran air. Jaringan internet juga dikembangkan untuk komunikasi, pendidikan, dokumentasi budaya, dan promosi karya warga.
Teknologi tidak diterapkan pada semua hal. Dalam proses pertanian dan ritual adat, masyarakat tetap mengikuti ketentuan yang telah diwariskan.
Inilah yang membuat Ciptagelar berbeda. Mereka tidak alergi terhadap modernisasi, tetapi juga tidak membiarkan teknologi menentukan seluruh arah kehidupan. Setiap perubahan disaring agar tidak merusak nilai dasar komunitas.
Dari Nama Ciptagelar Menuju Gelar Alam
Perjalanan masyarakat ini terus berkembang. Dalam sejumlah sumber dan pemberitaan terbaru, pusat Kasepuhan kini disebut Kasepuhan Gelar Alam, sementara nama Ciptagelar masih sering digunakan dalam penjelasan karena sudah lebih dikenal oleh masyarakat luas.
Perubahan nama tersebut merupakan bagian dari tradisi perjalanan pusat Kasepuhan. Kampung dapat berpindah dan nama dapat berubah, tetapi identitas komunitas, aturan pertanian, kepemimpinan Abah, serta hubungan dengan wilayah leluhur tetap dilanjutkan.
Pada 2026, media masih menggunakan penyebutan “Gelar Alam (Ciptagelar)” untuk membantu pembaca memahami bahwa keduanya merujuk pada perjalanan komunitas adat yang sama.
Hal ini mengingatkan kita bahwa Kasepuhan bukanlah museum yang berhenti pada satu masa. Ia merupakan masyarakat hidup yang terus bergerak, mengambil keputusan, dan menyesuaikan diri tanpa kehilangan akar budaya.
Sejarah Kasepuhan Ciptagelar memperlihatkan perjalanan panjang masyarakat adat Sunda dalam menjaga identitasnya.
Dari cerita asal-usul yang berkaitan dengan Pajajaran, tradisi berpindah kampung, pembentukan Ciptagelar pada 2001, hingga perkembangan menuju Gelar Alam, setiap tahap memiliki makna tersendiri.
Kekuatan komunitas ini terletak pada kemampuannya menjaga budaya padi, leuit, Seren Taun, gotong royong, dan kelestarian hutan. Pada saat yang sama, teknologi seperti listrik mikrohidro, radio, televisi, dan internet dimanfaatkan secara selektif.
Saat berkunjung atau mempelajari Kasepuhan Ciptagelar, jangan hanya melihatnya sebagai objek wisata. Kenali nilai-nilainya, hormati aturan adat, dan bantu memperkenalkan kebudayaan tersebut secara bertanggung jawab kepada generasi berikutnya.
FAQ
1. Di mana lokasi Kasepuhan Ciptagelar?
Kasepuhan Ciptagelar dikenal berada di wilayah Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, di sekitar kawasan Pegunungan Halimun-Salak.
2. Kapan Kasepuhan Ciptagelar mulai berdiri?
Menurut penuturan adat dan sejumlah publikasi, perjalanan komunitas dihitung sejak 1368. Sementara itu, nama dan pusat Kampung Ciptagelar dibentuk sekitar tahun 2001 setelah perpindahan dari Ciptarasa.
3. Siapa pemimpin Kasepuhan Ciptagelar?
Kepemimpinan adat dilanjutkan secara turun-temurun. Setelah Abah Anom meninggal pada 2007, kepemimpinan diteruskan oleh Abah Ugi Sugriana Rakasiwi.
4. Mengapa padi tidak dijual oleh masyarakat Ciptagelar?
Padi dipandang sebagai simbol kehidupan dan persediaan keluarga. Hasil panen diprioritaskan untuk kebutuhan masyarakat serta disimpan di dalam leuit sebagai bentuk ketahanan pangan.
5. Apakah masyarakat Ciptagelar menggunakan teknologi?
Ya. Mereka menggunakan listrik mikrohidro, radio, televisi komunitas, dan internet. Namun, penggunaan teknologi tetap disesuaikan dengan aturan dan nilai adat.