Di tengah kampung adat yang identik dengan rumah bambu, leuit, pertanian tradisional, dan ritual padi, keberadaan sebuah stasiun televisi tentu terasa menarik.
Namun, bagi masyarakat Kasepuhan Ciptagelar, televisi bukan sekadar simbol modernitas atau sarana hiburan. Mereka mempunyai media komunitas bernama CIGA TV.
Stasiun televisi lokal ini digunakan untuk merekam kegiatan adat, menayangkan kesenian, menyampaikan informasi, serta menyimpan potongan kehidupan masyarakat dalam bentuk audiovisual.
CIGA TV dan dokumentasi kehidupan masyarakat adat memperlihatkan bahwa teknologi tidak selalu mengikis tradisi. Ketika dikelola oleh komunitasnya sendiri, kamera dan televisi justru dapat membantu menjaga cerita, bahasa, tata cara, dan ingatan kolektif agar tidak mudah hilang.
Menariknya, warga Ciptagelar tidak hanya menjadi orang yang direkam. Mereka berperan sebagai pemilik media, pembuat tayangan, narasumber, penonton, sekaligus penentu batas informasi yang boleh disampaikan kepada pihak luar.
Apa Itu CIGA TV?
CIGA TV merupakan televisi komunitas yang dikembangkan di lingkungan Kasepuhan Ciptagelar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Nama “CIGA” diambil dari penyebutan Ciptagelar dan digunakan sebagai identitas media audiovisual masyarakat.
Berbeda dari stasiun televisi nasional yang mengandalkan pasar iklan dan mengejar jumlah penonton, CIGA TV hadir untuk memenuhi kebutuhan warga. Isi acaranya berhubungan dengan kehidupan kampung, sistem pertanian, ritual adat, kesenian, dan informasi lokal.
Penelitian mengenai CIGA TV menyebut media tersebut mulai dikembangkan pada 2008 atas inisiatif Abah Ugi Rakasiwi. Kehadirannya melengkapi Radio Swara Ciptagelar yang lebih dahulu digunakan sebagai media komunikasi berbasis suara.
Televisi komunitas ini menunjukkan bahwa masyarakat adat tidak harus menjadi konsumen pasif tayangan dari luar. Mereka dapat memproduksi konten sendiri berdasarkan pengalaman, bahasa, nilai, dan kebutuhan komunitasnya.
Latar Belakang Lahirnya CIGA TV
Sebelum televisi komunitas hadir, Radio Swara Ciptagelar telah membantu menyampaikan kabar kepada warga yang tinggal tersebar di kawasan Pegunungan Halimun. Namun, radio hanya dapat membawa suara.
Masyarakat kemudian melihat perlunya media yang juga dapat memperlihatkan gambar. Melalui video, warga dapat merekam gerakan ritual, bentuk pakaian, penggunaan peralatan pertanian, pertunjukan kesenian, hingga suasana kehidupan sehari-hari.
CIGA TV hadir sebagai penyeimbang media audio dengan membawa format audiovisual. Programnya juga diarahkan untuk menyampaikan informasi pertanian, kegiatan kasepuhan, dan berbagai aktivitas warga.
Lahirnya televisi tersebut tidak berarti masyarakat ingin meniru sepenuhnya gaya media perkotaan. Peralatan televisi justru disesuaikan dengan tujuan lokal, yaitu memperkuat komunikasi dan menjaga ingatan budaya.
Merekam Kehidupan yang Sebelumnya Diwariskan secara Lisan
Banyak pengetahuan masyarakat Ciptagelar tidak diwariskan melalui buku. Anak-anak belajar dengan mendengar penjelasan orang tua, mengikuti kegiatan, membantu pekerjaan, dan memperhatikan para sesepuh.
Cara tersebut membuat budaya tetap terasa hidup. Namun, pewarisan lisan juga memiliki risiko. Pengetahuan dapat berkurang ketika seorang tokoh adat meninggal atau suatu kegiatan semakin jarang dilaksanakan.
Di sinilah dokumentasi video memiliki peran penting. Rekaman dapat menyimpan suara, ekspresi, gerakan, suasana, serta detail visual yang sulit dijelaskan hanya melalui tulisan.
Penelitian UGM mencatat bahwa berbagai kegiatan adat diabadikan melalui video dan disiarkan melalui CIGA TV sebagai sarana penyampaian tradisi kepada generasi berikutnya. Media ini dikelola secara mandiri agar manfaatnya tetap kembali kepada masyarakat.
Meski demikian, rekaman tidak menggantikan pengalaman langsung. Menonton prosesi melalui layar berbeda dari mengikuti kegiatan, memahami tanggung jawab, dan terlibat bersama masyarakat di lapangan.
Kegiatan Apa Saja yang Didokumentasikan?
Isi CIGA TV berangkat dari kehidupan masyarakat itu sendiri. Karena sebagian besar aktivitas Ciptagelar berkaitan dengan padi, dokumentasi pertanian menjadi salah satu bagian penting.
Tahapan seperti Ngaseuk, Mipit, Nganyaran, penyimpanan padi, dan Seren Taun dapat direkam sesuai izin adat.
Penonton kemudian dapat melihat bahwa pertanian di Ciptagelar bukan sekadar proses produksi beras, tetapi rangkaian sosial dan spiritual yang berlangsung sepanjang tahun.
Kesenian tradisional juga mempunyai ruang dalam tayangan. Pertunjukan angklung buhun, dogdog lojor, wayang golek, musik Sunda, dan kegiatan budaya lainnya dapat didokumentasikan agar lebih mudah dikenali oleh generasi muda.
Kajian tentang media komunitas Ciptagelar menyebut kontennya mencakup berita lokal, pengetahuan pertanian tradisional, upacara adat, seni pertunjukan, dan sejarah setempat.
Tayangan tersebut berfungsi sebagai media ekspresi budaya, pendidikan, serta komunikasi antarkomunitas.
Kehidupan Sehari-hari Juga Penting
Dokumentasi budaya tidak selalu harus berisi upacara besar. Aktivitas sederhana seperti memasak bersama, bermusyawarah, memperbaiki fasilitas kampung, atau bekerja secara gotong royong juga menyimpan nilai.
Rekaman keseharian membantu memperlihatkan bagaimana adat dijalankan di luar acara seremonial. Penonton dapat melihat hubungan antara pemimpin, keluarga, petani, pemuda, seniman, dan pemangku adat dalam kehidupan nyata.
Hal ini membuat CIGA TV berbeda dari media luar yang biasanya datang hanya ketika Seren Taun berlangsung. Masyarakat dapat memperlihatkan kebudayaan sebagai cara hidup, bukan sekadar festival tahunan.
CIGA TV sebagai Arsip Audiovisual Masyarakat
Salah satu fungsi penting CIGA TV adalah membentuk arsip audiovisual. Setiap rekaman menyimpan informasi mengenai orang, tempat, bahasa, pakaian, alat, musik, serta kondisi kampung pada waktu tertentu.
Nilai sebuah video dapat semakin besar seiring berjalannya waktu. Rekaman yang awalnya hanya menampilkan kegiatan biasa dapat menjadi sumber sejarah ketika bangunan berubah, tokoh telah tiada, atau generasi baru ingin mempelajari kehidupan pendahulunya.
Penelitian tahun 2025 mengenai televisi komunitas ini menyimpulkan bahwa CIGA TV mengubah tradisi lisan dan ritual menjadi konten audiovisual.
Tayangan tersebut berfokus pada kehidupan agraris, kegiatan adat, dan kesenian, sekaligus berperan sebagai media pendidikan serta penguat identitas bersama.
Arsip yang baik tentu bukan sekadar tumpukan file. Setiap rekaman idealnya dilengkapi informasi mengenai tanggal, lokasi, nama kegiatan, narasumber, bahasa yang digunakan, dan batas penggunaannya.
Tanpa pengelolaan tersebut, file mudah tercecer atau kehilangan konteks. Orang mungkin dapat menonton gambarnya, tetapi tidak lagi memahami siapa yang tampil dan mengapa kegiatan itu dilakukan.
Tayangan Berdasarkan Permintaan Warga
Salah satu karakter menarik CIGA TV adalah kedekatannya dengan penonton. Warga bukan hanya menerima jadwal tayangan yang sudah ditentukan oleh pengelola, tetapi dapat mempunyai hubungan langsung dengan isi siaran.
Kajian tentang program CIGA TV menemukan adanya tayangan berbasis permintaan. Warga dapat meminta rekaman kegiatan lama untuk melihat kembali orang tua, teman, atau tokoh penting yang pernah terdokumentasi.
Fungsi ini membuat televisi terasa seperti album keluarga dalam ukuran komunitas. Sebuah rekaman tidak hanya menyimpan informasi, tetapi juga menghadirkan kenangan dan hubungan emosional.
Seseorang yang sedang berada jauh dari kampung dapat melihat suasana kegiatan lama. Keluarga juga dapat mengenang anggota masyarakat yang pernah terlibat dalam ritual, kesenian, atau pekerjaan bersama.
Di sinilah arsip berubah menjadi ruang silaturahmi. Tayangan tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi membantu menjaga hubungan sosial pada masa sekarang.
Media Pendidikan bagi Generasi Muda
Generasi muda Ciptagelar tumbuh di tengah dua arus sekaligus. Mereka menerima pengetahuan adat dari keluarga, tetapi juga berhadapan dengan internet, telepon pintar, media sosial, dan budaya populer.
CIGA TV dapat menjadi jembatan antara keduanya. Nilai tradisional disajikan melalui format audiovisual yang lebih akrab dengan kebiasaan belajar generasi digital.
Anak-anak dapat melihat tahapan kegiatan adat, mengenali kesenian, mendengar bahasa Sunda, dan memahami pekerjaan masyarakat. Rekaman juga dapat membantu menjelaskan mengapa suatu aturan tetap dijalankan.
Namun, pendidikan budaya tidak cukup hanya dengan memutar video. Tayangan perlu disertai penjelasan dari orang tua, pemangku adat, atau warga yang memahami konteksnya.
CIGA TV berfungsi sebagai pintu masuk. Pembelajaran sesungguhnya tetap berlangsung ketika generasi muda ikut ke huma, membantu kegiatan kampung, mendengarkan nasihat sesepuh, dan menjalankan tanggung jawabnya.
Menguatkan Identitas dan Kebersamaan Warga
Media arus utama sering menggambarkan masyarakat adat dari sudut pandang pihak luar. Mereka terkadang hanya ditampilkan sebagai kelompok eksotis, tertinggal, atau sekadar destinasi wisata.
CIGA TV memberi masyarakat kesempatan untuk membentuk narasi mengenai dirinya sendiri. Mereka dapat menentukan kegiatan yang penting, cara menjelaskannya, serta nilai apa yang perlu ditekankan.
Menurut kajian etnografi, media komunitas di Ciptagelar membantu membangun kedaulatan informasi. Warga menjadi produsen cerita budaya dan mempunyai kontrol lebih besar terhadap representasi identitasnya.
Televisi komunitas juga memperkuat kohesi sosial. Ketika warga melihat kegiatan, tokoh, bahasa, dan lingkungan yang mereka kenal di layar, muncul perasaan bahwa media tersebut benar-benar menjadi milik bersama.
Penelitian tentang CIGA TV menempatkan fungsi pendidikan dan kohesi sosial internal sebagai dua peran utamanya. Pada saat yang sama, media ini menjadi duta budaya yang memperkenalkan masyarakat Ciptagelar kepada pihak luar.
Menghubungkan Ciptagelar dengan Dunia Luar
Awalnya, jangkauan televisi komunitas lebih berfokus pada wilayah Kasepuhan. Perkembangan internet kemudian membuka kemungkinan agar dokumentasi dan program tertentu dapat diakses oleh publik yang lebih luas.
Kehadiran platform digital memungkinkan video ditonton tanpa harus berada dalam jangkauan pemancar lokal. Hal ini dapat membantu pendidikan, penelitian, promosi budaya, serta komunikasi dengan masyarakat di luar Sukabumi.
Media Lab Ciptagelar juga dikembangkan untuk memperkuat keterampilan teknis, produksi konten, literasi media, dan pengelolaan internet komunitas.
Salah satu harapannya adalah memperluas akses tayangan CIGA TV sekaligus meningkatkan kemampuan warga dalam membuat karya lokal.
Meski demikian, akses yang lebih luas tidak berarti semua rekaman harus diunggah ke internet. Komunitas tetap mempunyai hak menentukan dokumentasi mana yang boleh ditonton publik dan mana yang hanya digunakan secara internal.
Etika Dokumentasi Kehidupan Masyarakat Adat
Kamera dapat membantu pelestarian, tetapi juga dapat menimbulkan persoalan. Ritual yang sakral bisa kehilangan konteks ketika dipotong menjadi video singkat dan disebarkan hanya demi mengejar penonton.
Karena itu, dokumentasi masyarakat adat harus dilakukan dengan izin. Orang yang merekam perlu memahami bagian mana yang boleh diabadikan, kapan kamera harus dimatikan, dan bagaimana hasil rekamannya digunakan.
Kepemilikan file juga penting. Dokumentasi tentang masyarakat sebaiknya tidak sepenuhnya dikuasai oleh pembuat konten, peneliti, atau perusahaan dari luar.
Masyarakat yang direkam perlu mempunyai akses terhadap salinan, penjelasan mengenai penggunaannya, serta kewenangan untuk membatasi penyebaran. CIGA TV memberikan contoh penting karena produksi dan narasinya berasal dari komunitas sendiri.
Tantangan Menjaga CIGA TV Tetap Berjalan
Menjalankan televisi komunitas membutuhkan lebih dari kamera dan pemancar. Perangkat harus dirawat, listrik tersedia, konten diproduksi, jadwal diatur, dan operator teknis perlu terus disiapkan.
Regenerasi menjadi tantangan besar. Keterampilan merekam, menyunting video, mengatur suara, menyimpan arsip, dan memperbaiki perangkat tidak boleh hanya dikuasai oleh beberapa orang.
Media Lab dirancang untuk mendukung pelatihan teknis serta produksi konten lokal. Fasilitasnya mencakup studio rekaman, ruang pelatihan, dan area kerja yang dapat digunakan untuk kegiatan media komunitas.
Penyimpanan digital juga membutuhkan perhatian. Hard disk dapat rusak, kartu memori dapat hilang, dan format file dapat menjadi usang.
Arsip sebaiknya mempunyai beberapa salinan yang disimpan di tempat berbeda. Pengelola juga perlu menata file secara teratur agar rekaman lama tetap mudah ditemukan.
Jadwal siaran dan kondisi operasional CIGA TV saat ini belum dijelaskan secara konsisten dalam sumber publik yang tersedia. Karena itu, informasi mengenai akses siaran terkini sebaiknya dikonfirmasi langsung kepada pengelola Kasepuhan.
Pelajaran dari CIGA TV
CIGA TV membuktikan bahwa teknologi tidak harus datang untuk menggantikan kebudayaan. Televisi dapat diubah menjadi alat untuk merekam, menjelaskan, dan mewariskan tradisi.
Kuncinya terletak pada kendali komunitas. Ketika masyarakat menentukan isi, cara produksi, bahasa, dan batas publikasi, media lebih mungkin melayani kebutuhan mereka.
Model ini dapat menjadi inspirasi bagi komunitas lain. Pelestarian budaya tidak harus selalu dimulai dengan proyek besar atau peralatan mahal.
Rekaman wawancara, dokumentasi kesenian, cerita orang tua, dan video kegiatan sehari-hari sudah dapat menjadi awal.
Hal terpenting adalah memperoleh izin, menyimpan konteks, melibatkan generasi muda, dan memastikan arsip tetap berada dalam kendali pemilik budaya.
CIGA TV merupakan televisi komunitas yang membantu mendokumentasikan kehidupan masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar.
Sejak dikembangkan pada 2008, media ini digunakan untuk merekam pertanian, ritual, kesenian, sejarah lokal, serta aktivitas warga.
Perannya tidak berhenti pada penyiaran. CIGA TV menjadi arsip audiovisual, media pendidikan generasi muda, ruang silaturahmi, penguat identitas, dan sarana bagi masyarakat untuk menceritakan dirinya sendiri.
Teknologi memberikan manfaat ketika digunakan dengan tujuan dan batas yang jelas.
Mari menghargai dokumentasi Ciptagelar bukan sebagai konten hiburan semata, tetapi sebagai bagian dari pengetahuan hidup yang hak pengelolaan dan penafsirannya tetap berada pada masyarakat adat.
FAQ
1. Apa yang dimaksud dengan CIGA TV?
CIGA TV adalah televisi komunitas yang dikembangkan dan dikelola di lingkungan Kasepuhan Ciptagelar untuk menayangkan informasi, kegiatan adat, pertanian, kesenian, dan kehidupan warga.
2. Kapan CIGA TV mulai dikembangkan?
Sejumlah penelitian menyebut CIGA TV mulai dikembangkan pada 2008 atas inisiatif Abah Ugi Rakasiwi.
3. Apa saja isi tayangan CIGA TV?
Programnya mencakup kegiatan pertanian, upacara adat, berita lokal, seni pertunjukan, sejarah masyarakat, dan dokumentasi kehidupan sehari-hari.
4. Mengapa CIGA TV penting bagi generasi muda?
Rekaman audiovisual membantu generasi muda melihat kembali ritual, bahasa, kesenian, dan penjelasan para sesepuh. Namun, video tetap harus dilengkapi dengan pembelajaran langsung.
5. Apakah CIGA TV dapat ditonton secara online?
Sebagian dokumentasi CIGA TV pernah dibagikan melalui platform digital. Namun, jadwal siaran dan akses resmi terkini belum terdokumentasi secara konsisten sehingga perlu dikonfirmasi kepada pengelola komunitas.