Peran Teknologi dalam Pelestarian Budaya Ciptagelar

Ketika membicarakan kampung adat, banyak orang langsung membayangkan sebuah masyarakat yang menjauh dari internet, televisi, komputer, dan berbagai perangkat modern.

Gambaran tersebut tidak sepenuhnya berlaku bagi masyarakat Kasepuhan Ciptagelar di Sukabumi.

Di tengah rumah panggung, lumbung padi, ritual pertanian, dan aturan leluhur, masyarakat Ciptagelar justru menggunakan kamera, jaringan internet, radio komunitas, televisi lokal, hingga pembangkit listrik tenaga air.

Teknologi tidak dipandang sebagai musuh yang harus dijauhi, tetapi sebagai alat yang perlu dikendalikan.

Peran teknologi dalam pelestarian budaya Ciptagelar terlihat dari cara masyarakat mendokumentasikan upacara adat, menyebarkan informasi pertanian, menyimpan rekaman para sesepuh, dan mengenalkan kebudayaan kepada generasi muda.

Mereka tidak hanya menjadi penonton atau konsumen teknologi, tetapi juga mengelola media serta infrastrukturnya secara mandiri.

Pendekatan ini membuktikan bahwa modernisasi tidak selalu menghapus tradisi. Ketika digunakan dengan tujuan yang jelas, teknologi justru dapat membantu sebuah kebudayaan tetap hidup.

Teknologi Diterima, tetapi Adat Tetap Menjadi Pegangan

Masyarakat Ciptagelar mempunyai cara pandang yang cukup menarik terhadap perubahan zaman. Mereka tidak menutup diri dari perkembangan baru, tetapi juga tidak menerima semua hal tanpa pertimbangan.

Prinsip tersebut sering dikaitkan dengan gagasan hirup salaras jeung salurus. Salaras berarti menjalani kehidupan yang selaras dengan alam dan perkembangan zaman, sedangkan salurus menggambarkan sikap tetap berada pada jalan yang diwariskan oleh para leluhur.

Ada pula ungkapan yang kurang lebih berarti masyarakat harus mampu mengikuti zaman tanpa terseret oleh zaman. Teknologi boleh digunakan selama membantu kehidupan bersama, tidak merusak lingkungan, dan tidak mengubah nilai inti Kasepuhan.

Karena itu, penerapannya berbeda pada setiap bidang. Komputer, televisi, dan internet dapat digunakan untuk komunikasi serta pendidikan.

Namun, dalam pertanian padi, masyarakat tetap menjalankan kalender adat, memakai benih lokal, memanen dengan alat tradisional, dan menyimpan hasilnya di dalam leuit.

Sikap selektif inilah yang membuat teknologi di Ciptagelar tidak menjadi pengganti budaya. Ia ditempatkan sebagai pendukung agar tradisi lebih mudah diwariskan dan dipahami.

CIGA TV Mengubah Tradisi Lisan Menjadi Arsip Audiovisual

Salah satu contoh paling terkenal adalah CIGA TV, televisi komunitas yang dikelola oleh masyarakat Kasepuhan. Media ini menayangkan kegiatan sehari-hari, kesenian, informasi kampung, pertanian, dan berbagai upacara adat.

CIGA TV disebut mulai dikembangkan pada 2008 atas inisiatif Abah Ugi Rakasiwi. Kehadirannya melengkapi media audio yang sebelumnya telah digunakan oleh masyarakat dan menyediakan ruang komunikasi berbasis gambar serta suara.

Peran televisi komunitas ini sangat penting karena banyak pengetahuan adat diwariskan melalui tutur kata dan praktik langsung. Tidak semua aturan, cerita, atau tahapan ritual dicatat dalam buku.

Melalui kamera, berbagai peristiwa dapat direkam. Prosesi Ngaseuk, Mipit, Nganyaran, Seren Taun, pertunjukan kesenian, hingga penjelasan dari tokoh adat dapat disimpan dan diputar kembali.

Penelitian mengenai CIGA TV menyimpulkan bahwa tayangannya membantu mengubah tradisi lisan dan ritual menjadi konten audiovisual.

Media tersebut berfungsi sebagai sarana pendidikan, penguat hubungan sosial, sekaligus jembatan yang memperkenalkan identitas Ciptagelar kepada masyarakat luar.

Masyarakat Menjadi Produsen Ceritanya Sendiri

Tanpa media sendiri, masyarakat adat sering hanya muncul dalam dokumentasi buatan wisatawan, jurnalis, atau pembuat konten dari luar. Sudut pandang yang ditampilkan belum tentu sesuai dengan cara masyarakat memahami kebudayaannya.

CIGA TV memberikan kesempatan kepada warga untuk menentukan cerita apa yang ingin disampaikan. Mereka dapat memilih kegiatan yang perlu direkam, cara menjelaskannya, dan batas-batas informasi yang tidak boleh dibuka kepada publik.

Hal ini membuat masyarakat tidak hanya menjadi objek kamera. Mereka menjadi produsen, penyunting, penyiar, sekaligus pemilik arsip kebudayaan tersebut.

Kontrol atas cerita sangat penting dalam pelestarian budaya. Tradisi tidak sekadar menjadi tontonan menarik, tetapi dijelaskan berdasarkan nilai dan konteks yang dipahami oleh komunitas pemiliknya.

Radio Komunitas Menjaga Komunikasi Antarwarga

Sebelum video dan internet semakin mudah diakses, radio telah menjadi media penting bagi warga yang tinggal tersebar di berbagai kampung. Radio mampu menjangkau wilayah luas dengan perangkat penerima yang relatif sederhana.

Radio Swara Ciptagelar digunakan sebagai sarana menyampaikan kabar, informasi kegiatan, musik tradisional, dan berbagai pesan yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat. Media seperti ini lebih dekat dengan kebutuhan lokal dibandingkan siaran komersial dari kota.

Bahasa yang digunakan dapat disesuaikan dengan kebiasaan warga. Topik yang dibahas juga berasal dari kehidupan sehari-hari, seperti jadwal kegiatan adat, keadaan kampung, pertanian, kesenian, atau pengumuman keluarga.

Rencana pengembangan Media Lab Ciptagelar juga memasukkan upaya mengaktifkan kembali Radio Swara Ciptagelar melalui fasilitas studio rekaman. Hal tersebut menunjukkan bahwa radio masih dipandang sebagai bagian penting dari jaringan media komunitas.

Radio mungkin terlihat sederhana jika dibandingkan dengan media sosial. Namun, dalam wilayah pegunungan yang koneksi internetnya tidak selalu stabil, siaran audio tetap dapat menjadi alat komunikasi yang praktis.

Internet Membuka Ruang Belajar bagi Generasi Muda

Kehadiran jaringan internet membuat masyarakat dapat berkomunikasi lebih cepat, mencari pengetahuan, mengikuti pelatihan, dan berhubungan dengan berbagai pihak di luar wilayah Kasepuhan.

Penelitian Universitas Gadjah Mada mencatat bahwa jaringan Wi-Fi dan CIGA TV dikelola untuk memberikan manfaat kepada masyarakat. Internet ditempatkan sebagai bagian dari upaya menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai tradisional.

Bagi generasi muda, akses digital membuka banyak peluang. Mereka dapat belajar mengoperasikan kamera, menyunting video, mengelola jaringan, membuat dokumentasi, dan menyebarkan informasi mengenai kegiatan budaya.

Kemampuan tersebut penting karena pelestarian tradisi membutuhkan penerus. Para sesepuh memiliki pengetahuan, sedangkan generasi muda dapat membantu merekam dan menyajikannya melalui format yang lebih mudah diterima oleh anak-anak seusia mereka.

Pada 2025, Kementerian Komunikasi dan Digital juga menyatakan dukungan terhadap pengembangan literasi digital di Kasepuhan Gelar Alam, nama yang digunakan dalam fase lanjutan perjalanan komunitas Ciptagelar.

Pendekatannya menempatkan teknologi sebagai penghubung antara adat dan masa depan.

Literasi digital di sini bukan hanya kemampuan memakai telepon pintar. Warga juga perlu memahami keamanan data, kebenaran informasi, etika dokumentasi, dan risiko menyebarkan bagian budaya yang bersifat terbatas.

Media Lab Menyiapkan Pengelola Teknologi dari Dalam Komunitas

Membangun koneksi internet relatif lebih mudah daripada menjaga agar infrastrukturnya tetap berjalan. Kabel dapat rusak, perangkat jaringan perlu diperbarui, dan gangguan teknis dapat muncul kapan saja.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, dikembangkan Media Lab Kasepuhan Ciptagelar. Tempat ini dirancang sebagai pusat pelatihan teknis, literasi media, produksi konten, serta pengembangan internet berbasis komunitas.

Bangunannya memadukan kebutuhan teknologi dengan unsur arsitektur lokal. Di dalamnya terdapat ruang studio rekaman, kantor, ruang pelatihan, serta area yang dapat digunakan oleh peserta kegiatan.

Media Lab tidak hanya menyediakan komputer atau perangkat jaringan. Fungsi terpentingnya adalah menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mengelola teknologi secara mandiri.

Warga dapat belajar menangani masalah koneksi, merawat perangkat, mengelola layanan internet, serta memproduksi konten lokal. Dengan demikian, pengetahuan teknis tidak hanya dikuasai oleh tenaga ahli dari luar.

Model ini membantu menjaga keberlanjutan. Ketika terjadi kerusakan sederhana, masyarakat tidak selalu harus menunggu teknisi datang dari kota yang jaraknya cukup jauh.

Energi Mandiri Membuat Teknologi Bisa Digunakan

Televisi, kamera, komputer, internet, dan pemancar radio tidak dapat bekerja tanpa listrik. Karena itu, pelestarian budaya berbasis teknologi juga bergantung pada ketersediaan energi.

Masyarakat Ciptagelar memanfaatkan pembangkit listrik tenaga mikrohidro yang menggunakan aliran air untuk menggerakkan turbin. Energi matahari juga digunakan untuk mendukung beberapa kebutuhan, termasuk perangkat komunikasi.

Penggunaan energi terbarukan membuat hubungan antara teknologi dan kelestarian alam menjadi terlihat jelas. Turbin hanya dapat bekerja apabila sungai memiliki aliran air yang cukup.

Air sungai bergantung pada keadaan hutan di wilayah hulu. Jika hutan rusak, kemampuan tanah menyimpan air menurun dan aliran sungai dapat terganggu.

Dengan begitu, menjaga hutan tidak hanya penting untuk pertanian dan sumber air minum. Kelestarian kawasan juga mendukung listrik yang menghidupkan media komunitas dan berbagai perangkat dokumentasi budaya.

Teknologi modern akhirnya tidak berdiri terpisah dari kearifan lokal. Keduanya saling terhubung melalui pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab.

Dokumentasi Digital Membantu Pewarisan Pengetahuan

Salah satu tantangan terbesar dalam pelestarian budaya adalah hilangnya pengetahuan ketika seorang tokoh adat meninggal dunia. Cerita, istilah, lagu, doa, teknik membuat alat, atau penjelasan mengenai ritual dapat ikut menghilang apabila tidak diwariskan.

Rekaman suara dan video dapat menjadi lapisan perlindungan tambahan. Wawancara dengan para sesepuh dapat disimpan, sementara proses pertanian dan kesenian dapat direkam secara berurutan.

Arsip digital juga memudahkan generasi muda untuk mempelajari kembali sebuah kegiatan. Mereka dapat melihat cara memainkan alat musik, urutan prosesi, pakaian yang digunakan, atau penjelasan tentang makna simbol tertentu.

Namun, dokumentasi tidak boleh dianggap sebagai pengganti pengalaman langsung. Menonton video Ngaseuk tidak sama dengan ikut bekerja di huma bersama warga.

Arsip berfungsi sebagai alat bantu. Tradisi akan tetap hidup hanya jika masyarakat terus menjalankannya, memahami nilainya, dan mewariskan tanggung jawab kepada generasi berikutnya.

Selain itu, tidak semua pengetahuan harus disimpan di internet terbuka. Sebagian dokumentasi dapat dibatasi untuk keluarga, pemangku adat, atau anggota komunitas tertentu.

Teknologi Membantu Memperkenalkan Budaya secara Lebih Utuh

Internet memungkinkan informasi mengenai Ciptagelar menjangkau orang yang belum pernah datang ke Sukabumi. Tayangan video, rekaman kesenian, foto, dan tulisan dapat memperkenalkan kehidupan masyarakat kepada publik yang lebih luas.

Manfaatnya bukan hanya promosi wisata. Informasi yang diproduksi secara bertanggung jawab dapat membantu masyarakat memahami budaya padi, leuit, sistem pertanian, pengelolaan hutan, dan kepemimpinan adat.

Media digital juga dapat mengoreksi anggapan bahwa masyarakat adat selalu tertinggal. Ciptagelar menunjukkan bahwa sebuah komunitas dapat memahami teknologi tanpa kehilangan identitasnya.

Akan tetapi, keterbukaan tetap membutuhkan batas. Popularitas di media sosial berpotensi mengubah ritual menjadi sekadar latar foto atau konten hiburan.

Karena itu, pengunjung dan pembuat konten harus meminta izin sebelum merekam. Penjelasan mengenai tradisi juga sebaiknya mengikuti informasi dari masyarakat, bukan dibuat berdasarkan dugaan sendiri.

Tantangan Pelestarian Budaya di Era Digital

Teknologi membawa manfaat, tetapi juga menghadirkan risiko. Arus informasi dari luar dapat memengaruhi bahasa, selera hiburan, pola interaksi, dan cara generasi muda melihat tradisinya.

Telepon pintar dapat membantu komunikasi, tetapi juga mengurangi percakapan langsung apabila digunakan tanpa batas. Media sosial dapat mengenalkan kebudayaan, tetapi berpotensi menyebarkan informasi yang tidak lengkap.

Ada pula risiko penyalahgunaan dokumentasi. Foto atau rekaman ritual dapat diambil, dipotong, lalu disebarkan tanpa konteks dan tanpa izin masyarakat.

Tantangan lainnya adalah penyimpanan arsip. File digital dapat hilang karena perangkat rusak, format tidak lagi didukung, atau tidak tersedia salinan cadangan.

Karena itu, pelestarian berbasis teknologi membutuhkan aturan yang jelas. Masyarakat perlu menentukan siapa yang boleh merekam, bagaimana arsip disimpan, siapa yang dapat mengaksesnya, serta bagian mana yang boleh dibagikan kepada publik.

Pelajaran dari Cara Ciptagelar Menggunakan Teknologi

Pengalaman Ciptagelar memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak harus dilakukan dengan menghindari semua hal modern. Yang lebih penting adalah menentukan siapa yang mengendalikan teknologi dan untuk tujuan apa alat tersebut digunakan.

Ketika televisi dikelola oleh warga, tayangannya dapat memperkuat identitas lokal. Ketika internet disertai pelatihan, masyarakat tidak hanya menjadi pengguna pasif.

Energi terbarukan juga menunjukkan bahwa inovasi dapat disesuaikan dengan keadaan lingkungan. Sementara itu, pembatasan teknologi dalam pertanian memperlihatkan adanya nilai yang tetap dijaga.

Penelitian tentang dinamika masyarakat Ciptagelar menilai bahwa penggunaan televisi, komputer, internet, dan mikrohidro berjalan bersama nilai kebersamaan serta gotong royong. Perubahan diterima tanpa menghapus adat yang diwariskan leluhur.

Pendekatan ini dapat menjadi inspirasi bagi desa dan komunitas lain. Teknologi sebaiknya tidak sekadar dibeli, tetapi dipahami, dikelola, dan diarahkan untuk menyelesaikan kebutuhan nyata.

Peran teknologi dalam pelestarian budaya Ciptagelar terlihat melalui CIGA TV, radio komunitas, jaringan internet, Media Lab, arsip audiovisual, serta pemanfaatan energi terbarukan.

Perangkat tersebut membantu masyarakat mendokumentasikan ritual, menyampaikan informasi, memperkuat hubungan warga, dan mewariskan pengetahuan kepada generasi muda.

Keberhasilannya bukan hanya karena adanya alat modern. Teknologi ditempatkan di bawah kendali masyarakat dan digunakan sesuai kebutuhan adat. Bagian budaya yang boleh dibuka dibagikan kepada publik, sedangkan pengetahuan tertentu tetap dilindungi.

Ciptagelar mengajarkan bahwa tradisi dan inovasi tidak harus saling meniadakan. Mari menggunakan teknologi secara lebih bijak sekaligus menghormati hak masyarakat adat dalam menjaga, menjelaskan, dan menentukan masa depan kebudayaannya.

FAQ

1. Bagaimana teknologi membantu melestarikan budaya Ciptagelar?

Teknologi digunakan untuk merekam ritual, menyimpan penjelasan para sesepuh, menayangkan kesenian, menyampaikan informasi, dan mengenalkan kebudayaan kepada generasi muda.

2. Apa fungsi CIGA TV?

CIGA TV merupakan televisi komunitas yang menayangkan kegiatan adat, kehidupan masyarakat, pertanian, kesenian, dan informasi lokal.

3. Apakah masyarakat Ciptagelar menggunakan internet?

Ya. Internet digunakan untuk komunikasi, pendidikan, pelatihan teknis, produksi media, dan hubungan dengan pihak luar. Pengelolaannya diarahkan agar tetap sesuai dengan nilai komunitas.

4. Mengapa Media Lab penting bagi masyarakat?

Media Lab menjadi tempat pelatihan pengelolaan internet, produksi konten, literasi media, studio rekaman, dan pengembangan kemampuan teknis warga.

5. Apakah semua teknologi boleh digunakan dalam kegiatan adat?

Tidak. Penggunaannya diseleksi. Dalam pertanian padi dan ritual tertentu, masyarakat tetap mengikuti cara tradisional serta aturan leluhur.