Rumah panggung berdinding bambu, lumbung padi beratap ijuk, dan ritual pertanian yang diwariskan turun-temurun mungkin membuat Ciptagelar terlihat seperti kampung yang jauh dari kehidupan modern.
Namun, begitu masuk lebih dalam, kita bisa menemukan turbin pembangkit listrik, komputer, jaringan internet, radio, hingga stasiun televisi komunitas. Pemandangan tersebut bukanlah sebuah pertentangan.
Bagi masyarakat Kasepuhan, adat dan teknologi tidak harus saling menghapus. Teknologi dapat digunakan selama membantu kehidupan warga, tidak merusak alam, dan tidak bertentangan dengan ketentuan leluhur.
Inilah alasan Ciptagelar dikenal sebagai kampung adat yang tidak menolak teknologi. Masyarakatnya bukan sekadar memakai perangkat modern sebagai konsumen. Mereka ikut membangun, mengelola, memperbaiki, serta menentukan tujuan penggunaannya.
Di satu sisi, warga dapat mengakses internet dan memproduksi tayangan televisi. Di sisi lain, mereka tetap menanam padi menggunakan tata cara tradisional. Teknologi diterima, tetapi adat tetap memegang kendali.
Ciptagelar Tidak Memisahkan Tradisi dan Modernisasi
Masyarakat adat sering digambarkan sebagai kelompok yang harus memilih salah satu: mempertahankan tradisi atau mengikuti kemajuan zaman. Ciptagelar memperlihatkan bahwa pilihan tersebut sebenarnya tidak selalu bersifat hitam-putih.
Masyarakat Kasepuhan menerima berbagai perangkat modern, tetapi penerapannya disesuaikan dengan kepentingan bersama.
Teknologi tidak otomatis dianggap baik hanya karena baru, cepat, atau canggih. Manfaat dan pengaruhnya terhadap kehidupan adat tetap dipertimbangkan.
Penelitian UGM pada 2024 menggambarkan kemampuan masyarakat Ciptagelar dalam memasukkan teknologi modern ke dalam rutinitas sehari-hari tanpa meninggalkan nilai tradisi.
Sikap ini berkaitan dengan prinsip hidup selaras dengan alam dan perkembangan zaman, sekaligus tetap mengikuti tuntunan leluhur.
Jadi, Ciptagelar tidak sedang mengubah kampung adat menjadi kota kecil. Mereka menggunakan alat modern untuk memperkuat kemandirian, menyebarkan informasi, mendokumentasikan kebudayaan, dan menyelesaikan kebutuhan praktis masyarakat.
Dalam publikasi pemerintah yang lebih baru, komunitas ini juga disebut Kasepuhan Gelar Alam. Namun, nama Ciptagelar masih sangat dikenal dan tetap digunakan dalam banyak penelitian serta pembahasan mengenai perjalanan komunitas tersebut.
Prinsip Menyesuaikan Zaman Tanpa Terbawa Zaman
Keterbukaan masyarakat Ciptagelar terhadap teknologi memiliki batas yang jelas. Mereka ingin mampu mengikuti perubahan zaman, tetapi tidak ingin kehilangan kendali atas arah perubahan tersebut.
Sikap ini dapat dipahami melalui gagasan hirup salaras jeung salurus. Salaras menggambarkan kehidupan yang selaras dengan alam dan perkembangan zaman. Sementara itu, salurus berarti tetap berada pada jalur atau tuntunan leluhur.
Prinsipnya kurang lebih sederhana: teknologi boleh masuk, tetapi masyarakatlah yang menentukan cara menggunakannya. Perangkat modern ditempatkan sebagai alat, bukan sebagai pengganti adat.
Contohnya terlihat dari cara warga memanfaatkan kamera dan televisi. Kamera tidak digunakan hanya untuk hiburan, tetapi juga untuk merekam ritual, kesenian, kegiatan pertanian, serta cerita para sesepuh.
Internet pun tidak semata-mata digunakan untuk mengikuti tren. Jaringan tersebut dapat menjadi sarana pendidikan, komunikasi antarkampung, pelatihan teknis, dokumentasi budaya, dan hubungan dengan masyarakat luar.
Mikrohidro Membawa Listrik dari Aliran Sungai
Salah satu contoh teknologi paling penting di Ciptagelar adalah pembangkit listrik tenaga mikrohidro atau PLTMH. Sistem ini memanfaatkan aliran sungai untuk menggerakkan turbin dan menghasilkan energi listrik.
Pembangunan turbin di wilayah Kasepuhan berlangsung dalam beberapa tahap. IESR mencatat turbin Cicemet dibangun pada 1997 dengan kapasitas 50 kVA. Setelah itu, hadir turbin Situ Murni, Cibadak, dan Ciptagelar yang dikembangkan pada periode berikutnya.
Turbin-turbin tersebut memanfaatkan aliran Sungai Cisono. Berdasarkan perkiraan yang dicatat IESR, fasilitas mikrohidro pernah memberikan akses listrik kepada sekitar 1.500-1.700 keluarga di wilayah tersebut.
Angka dan kondisi operasional setiap turbin tentu dapat berubah karena usia peralatan serta kebutuhan perawatan.
Kehadiran listrik membawa perubahan besar. Warga dapat menggunakan penerangan, alat komunikasi, perangkat produksi media, serta perlengkapan rumah tangga tanpa sepenuhnya bergantung pada jaringan listrik dari luar.
Yang menarik, hubungan antara energi dan kelestarian alam dipahami dengan sangat jelas. Aliran air dapat terus digunakan karena hutan di sekitarnya dijaga. Jika kawasan resapan rusak, debit sungai berkurang dan pembangkit listrik ikut terdampak.
Teknologi yang Mendorong Gotong Royong
Pembangunan dan perawatan fasilitas listrik tidak hanya mengandalkan tenaga ahli dari luar. Warga ikut terlibat dalam pekerjaan, pengawasan, dan pengoperasiannya.
Penelitian mengenai dinamika masyarakat Ciptagelar mencatat bahwa pengerjaan pembangkit mikrohidro berkaitan erat dengan budaya gotong royong.
Teknologi akhirnya bukan sekadar perangkat yang dibeli, melainkan fasilitas yang tumbuh dari kerja kolektif komunitas.
Ketika terjadi gangguan, dibutuhkan orang yang memahami turbin, saluran air, kabel, dan pembagian daya. Pengetahuan teknis tersebut kemudian berkembang di tengah masyarakat.
Proses ini membuat teknologi lebih mandiri. Warga tidak selalu harus menunggu teknisi dari kota untuk menangani setiap persoalan kecil.
Energi Matahari untuk Mendukung Jaringan Internet
Selain memanfaatkan tenaga air, Ciptagelar juga menggunakan panel surya. Salah satu penggunaannya adalah membantu menyediakan energi bagi pemancar jaringan internet.
IESR mencatat bahwa energi dari pembangkit listrik tenaga surya digunakan untuk mendukung Wi-Fi warga. Kombinasi tenaga air dan matahari memperlihatkan bahwa sumber energi dipilih berdasarkan potensi alam yang tersedia di sekitar kampung.
Pendekatan tersebut cukup masuk akal untuk kawasan pegunungan yang tidak selalu mudah dijangkau infrastruktur konvensional. Daripada menunggu seluruh kebutuhan dipenuhi dari luar, masyarakat mengembangkan sumber daya lokal.
Namun, pemanfaatan energi terbarukan bukan berarti semua persoalan listrik langsung selesai. Turbin membutuhkan pemeliharaan, saluran air dapat terganggu, panel surya memiliki keterbatasan, sedangkan kebutuhan daya terus meningkat.
Karena itu, kemandirian teknologi juga membutuhkan perencanaan, regenerasi teknisi, suku cadang, serta kemampuan mengelola fasilitas dalam jangka panjang.
Radio Swara Ciptagelar sebagai Media Warga
Sebelum internet menjadi kebutuhan sehari-hari, radio memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat yang tinggal tersebar di berbagai kampung.
Radio Swara Ciptagelar digunakan untuk menghubungkan warga, menyampaikan kabar, memutar kesenian, dan membahas kegiatan masyarakat. Radio lebih mudah diakses karena penerima siarannya relatif sederhana dan tidak membutuhkan koneksi internet.
Kehadirannya menunjukkan bahwa masyarakat Ciptagelar tidak hanya menjadi pendengar media dari luar. Mereka membangun media yang isi dan arah komunikasinya ditentukan sendiri.
Radio komunitas memiliki kelebihan yang tidak selalu dimiliki media nasional. Bahasa, topik, gaya penyampaian, dan kebutuhan informasinya dekat dengan kehidupan warga.
Common Room mencatat adanya rencana untuk mengaktifkan kembali Radio Swara Ciptagelar melalui fasilitas studio rekam di Media Lab.
Hal ini memperlihatkan bahwa pengelolaan media komunitas membutuhkan regenerasi dan fasilitas yang terus dirawat, bukan hanya peralatan pemancar.
CIGA TV, Televisi dari dan untuk Masyarakat Adat
Ciptagelar juga dikenal memiliki televisi komunitas bernama CIGA TV. Stasiun ini menjadi salah satu contoh paling jelas tentang bagaimana teknologi modern dapat digunakan untuk mempertahankan identitas adat.
CIGA TV menampilkan kehidupan sehari-hari masyarakat, kegiatan pertanian, ritual, kesenian tradisional, informasi kampung, dan dokumentasi peristiwa penting.
Masyarakat bukan hanya menjadi objek yang direkam oleh pihak luar, tetapi ikut memproduksi cerita mengenai dirinya sendiri.
Sebuah penelitian tahun 2025 menyebut CIGA TV didirikan pada 2008 atas inisiatif Abah Ugi Rakasiwi. Televisi ini dikembangkan sebagai media audiovisual yang melengkapi peran radio komunitas.
Fungsi CIGA TV tidak berhenti pada hiburan. Tayangan mengenai pertanian, ritual, kesenian, dan kehidupan sosial membantu memperkuat ingatan kolektif masyarakat.
Arsip Budaya untuk Generasi Berikutnya
Banyak pengetahuan adat diwariskan melalui praktik, tuturan, dan keterlibatan langsung. Ketika seorang sesepuh meninggal atau sebuah ritual jarang dilaksanakan, sebagian pengetahuan berisiko ikut menghilang.
Rekaman audiovisual dapat membantu mengurangi risiko tersebut. Generasi muda dapat melihat kembali cara suatu prosesi dilakukan, mendengarkan penjelasan tokoh adat, dan mengenali kesenian yang pernah dipentaskan.
Penelitian mengenai CIGA TV menyimpulkan bahwa media tersebut berfungsi sebagai sarana pendidikan dan penguat hubungan internal, sekaligus menjadi jembatan untuk memperkenalkan budaya kepada dunia luar.
Namun, dokumentasi bukan pengganti keterlibatan langsung. Menonton ritual melalui layar berbeda dengan menjalankan tanggung jawab adat bersama masyarakat.
Rekaman membantu menyimpan pengetahuan, sedangkan kehidupan komunitaslah yang membuat tradisi tetap bermakna.
Internet Komunitas dan Media Lab
Masuknya internet membuka ruang baru bagi pendidikan, komunikasi, serta penyebaran informasi. Jaringan tersebut dikelola dengan pendekatan berbasis komunitas, bukan hanya menghadirkan sinyal lalu membiarkan warga menjadi pengguna pasif.
Media Lab Kasepuhan Ciptagelar dikembangkan sebagai tempat pelatihan, produksi media, dan peningkatan kemampuan teknis. Bangunannya dirancang dengan menggabungkan kebutuhan teknologi dan tatanan arsitektur adat.
Fasilitas tersebut memiliki studio rekaman, ruang kantor, area pelatihan, dan tempat bagi peserta kegiatan. Warga dapat belajar mengelola jaringan, menangani gangguan teknis, memproduksi konten, serta meningkatkan literasi media.
Common Room menekankan bahwa tantangan terbesar bukan hanya membangun infrastruktur. Jaringan harus dipelihara, teknisi perlu dipersiapkan, dan pemanfaatannya harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Pada 2025, Kementerian Komunikasi dan Digital juga mengumumkan dukungan literasi digital di Kasepuhan Gelar Alam. Program tersebut menempatkan internet sebagai jembatan antara adat dan masa depan, bukan sebagai tujuan akhir pembangunan.
Teknologi Tidak Bebas Masuk ke Semua Bidang
Keterbukaan Ciptagelar bukan berarti seluruh aktivitas tradisional langsung digantikan mesin. Salah satu bidang yang tetap mempunyai batas sangat kuat adalah pertanian padi.
Masyarakat menanam padi berdasarkan kalender adat dan umumnya hanya satu kali dalam setahun. Tahapan mengolah lahan, menanam, memanen, membawa hasil, serta menyimpan padi mengikuti tuntunan Kasepuhan.
Di sejumlah kegiatan, mesin modern tidak digunakan karena dapat mengubah tata cara memperlakukan padi. Panen tetap dilakukan menggunakan etem atau ani-ani, sedangkan hasilnya disimpan dalam bentuk ikatan di dalam leuit.
Penelitian mengenai masyarakat Ciptagelar menghadapi Revolusi Industri 4.0 juga menemukan pola yang sama: teknologi diterima untuk kebutuhan tertentu, tetapi kegiatan pertanian tetap dijalankan secara tradisional karena berkaitan langsung dengan warisan adat.
Inilah perbedaan antara menerima teknologi dan menyerahkan kehidupan kepada teknologi. Di Ciptagelar, ada wilayah yang terbuka untuk inovasi dan ada bagian yang dijaga lebih ketat.
Teknologi untuk Memperkuat Adat, Bukan Menggantikannya
Ada anggapan bahwa semakin banyak teknologi masuk, semakin cepat sebuah budaya tradisional menghilang. Risiko tersebut memang dapat terjadi jika masyarakat hanya menjadi konsumen dan tidak memiliki kendali.
Namun, Ciptagelar berusaha membalik hubungan tersebut. Kamera digunakan untuk membuat arsip budaya, televisi untuk menyebarkan nilai lokal, internet untuk pendidikan, dan listrik terbarukan untuk meningkatkan kemandirian.
Teknologi dalam konteks ini tidak berdiri di atas adat. Ia ditempatkan sebagai bagian dari strategi masyarakat untuk menghadapi perubahan.
Pilihan tersebut juga memperkuat posisi komunitas ketika berkomunikasi dengan dunia luar. Mereka dapat menyampaikan cerita melalui media sendiri, bukan selalu bergantung pada sudut pandang wisatawan, peneliti, atau jurnalis.
Masyarakat dapat menentukan tradisi mana yang boleh ditayangkan, informasi apa yang perlu dibagikan, dan bagian apa yang tetap menjadi pengetahuan internal.
Tantangan di Balik Keterbukaan Teknologi
Pemanfaatan teknologi tetap membawa tantangan. Internet dapat menghadirkan informasi pendidikan, tetapi juga membawa konten yang bertentangan dengan nilai komunitas.
Telepon pintar mempermudah komunikasi, tetapi berpotensi mengurangi interaksi langsung. Media sosial membantu promosi budaya, tetapi dapat membuat ritual dipandang hanya sebagai konten menarik.
Tantangan lainnya adalah regenerasi. Peralatan jaringan, turbin, kamera, komputer, dan perangkat siaran membutuhkan orang yang mampu mengoperasikan serta memperbaikinya.
Karena itu, keberadaan Media Lab dan pelatihan teknis menjadi penting. Teknologi akan sulit bertahan jika hanya dipahami oleh satu atau dua orang.
Ada pula persoalan biaya dan ketergantungan perangkat. Walaupun energi berasal dari sungai atau matahari, turbin, panel, baterai, komputer, serta komponen jaringan tetap memiliki usia pakai.
Kemandirian bukan berarti menolak kerja sama dari luar. Kemandirian berarti masyarakat tetap memiliki pengetahuan, peran, dan kewenangan dalam menentukan bagaimana bantuan serta teknologi digunakan.
Pelajaran yang Bisa Dipetik dari Ciptagelar
Pengalaman Ciptagelar memperlihatkan bahwa inovasi tidak harus menghapus identitas. Sebuah komunitas dapat menggunakan alat modern sambil tetap mempertahankan aturan yang dianggap mendasar.
Kuncinya terletak pada kemampuan memilih. Teknologi yang membantu pendidikan, komunikasi, energi, dokumentasi, dan pelayanan masyarakat dapat diterima. Namun, penerapannya tetap dibatasi ketika menyentuh nilai adat yang tidak boleh diubah.
Pendekatan ini relevan tidak hanya bagi masyarakat adat. Sekolah, desa, organisasi, dan keluarga juga dapat menilai teknologi berdasarkan manfaatnya, bukan sekadar karena sedang populer.
Pertanyaan terpentingnya bukan “seberapa canggih alat yang digunakan?”, tetapi “siapa yang mengendalikan alat tersebut dan untuk kepentingan apa?”.
Ciptagelar menunjukkan bahwa masyarakat tidak harus menjadi korban modernisasi. Mereka dapat menjadi perancang perubahan dengan memakai teknologi sesuai kebutuhan, lingkungan, dan nilai yang diyakini.
Ciptagelar membuktikan bahwa menjaga adat tidak sama dengan menolak teknologi. Masyarakat memanfaatkan mikrohidro, panel surya, radio, CIGA TV, jaringan internet, dan Media Lab untuk memenuhi kebutuhan sekaligus memperkuat identitas budaya.
Teknologi diterima secara selektif. Dalam komunikasi dan energi, inovasi digunakan untuk membangun kemandirian. Namun, dalam pertanian padi dan sejumlah ritual, tata cara leluhur tetap menjadi batas utama.
Pelajaran terpenting dari Ciptagelar bukan tentang banyaknya perangkat yang dimiliki. Nilainya terletak pada keberanian menentukan fungsi dan batas teknologi.
Mari melihat kampung adat ini bukan sebagai masyarakat yang tertinggal, melainkan komunitas yang mampu mengelola perubahan berdasarkan kebutuhannya sendiri.
FAQ
1. Apakah masyarakat Ciptagelar menggunakan listrik?
Ya. Masyarakat memanfaatkan pembangkit listrik tenaga mikrohidro dan energi surya, meskipun kondisi serta jangkauan fasilitas dapat berubah mengikuti perawatan dan perkembangan kebutuhan.
2. Apa itu CIGA TV?
CIGA TV adalah televisi komunitas yang menayangkan kehidupan sehari-hari, kegiatan adat, pertanian, kesenian, dan informasi masyarakat Kasepuhan.
3. Apakah Ciptagelar memiliki akses internet?
Ya. Jaringan internet berbasis komunitas telah dikembangkan untuk komunikasi, pendidikan, produksi media, dan pelatihan teknis.
4. Apakah teknologi modern digunakan untuk menanam padi?
Tidak semua teknologi diterapkan dalam pertanian. Proses menanam, memanen, serta menyimpan padi tetap mengikuti aturan adat dan banyak menggunakan peralatan tradisional.
5. Mengapa Ciptagelar mau menerima teknologi?
Teknologi diterima karena dapat membantu kebutuhan masyarakat, memperkuat kemandirian, dan mendukung pelestarian budaya. Penggunaannya tetap diseleksi berdasarkan nilai adat.