Ketika mendengar nama Kasepuhan Banten Kidul, sebagian orang mungkin langsung membayangkan sebuah kampung adat yang terletak di Provinsi Banten.
Ada juga yang menganggapnya sebagai nama lain dari Ciptagelar. Padahal, hubungan keduanya tidak sesederhana itu. Kasepuhan Banten Kidul merupakan identitas budaya yang menaungi sejumlah komunitas adat Sunda di sekitar Pegunungan Halimun.
Wilayah kehidupan mereka melintasi batas administratif Kabupaten Sukabumi, Lebak, dan Bogor. Sementara itu, Ciptagelar adalah salah satu kasepuhan yang berada dalam jaringan budaya tersebut.
Hubungan Ciptagelar dengan Kasepuhan Banten Kidul terbentuk melalui kesamaan asal-usul, adat pertanian, penghormatan terhadap leluhur, tata kelola hutan, serta ikatan antarkomunitas.
Meski memiliki banyak persamaan, setiap kasepuhan tetap mempunyai pemimpin, wilayah, dan perjalanan sejarahnya sendiri.
Karena itu, Ciptagelar bukan sekadar “cabang kampung” biasa. Ia mempunyai struktur adat yang kuat, jaringan pengikut, dan peran penting dalam memperkenalkan kebudayaan Kasepuhan kepada masyarakat luas.
Apa Itu Kasepuhan Banten Kidul?
Istilah kasepuhan berasal dari kata bahasa Sunda sepuh, yang berarti tua atau orang yang dituakan. Dalam konteks ini, kasepuhan merujuk pada komunitas yang mempertahankan tata kehidupan warisan leluhur atau tatali paranti karuhun.
Sementara itu, istilah Banten Kidul berarti Banten bagian selatan. Namun, Kasepuhan Banten Kidul tidak hanya ditemukan di wilayah administratif Provinsi Banten. Komunitasnya tersebar di sekitar ekosistem Pegunungan Halimun-Salak, termasuk wilayah Kabupaten Lebak, Sukabumi, dan Bogor.
Buku mengenai budaya Ciptagelar yang diterbitkan UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten menjelaskan bahwa masyarakat Kasepuhan tersebar di berbagai tempat di sekitar Gunung Halimun.
Di wilayah Banten, komunitasnya dapat ditemukan antara lain di sekitar Bayah, Cisungsang, Cicarucub, dan wilayah Lebak lainnya.
Di Bogor terdapat komunitas seperti Urug dan Cipatat Kolot, sedangkan di Sukabumi mereka banyak bermukim di Kecamatan Cisolok serta sepanjang Sungai Cibareno Girang.
Jadi, Kasepuhan Banten Kidul lebih tepat dipahami sebagai jaringan komunitas adat Sunda yang memiliki hubungan budaya dan sejarah. Istilah tersebut bukan nama satu desa, bukan pula satu wilayah administratif yang dibatasi garis kabupaten atau provinsi.
Posisi Ciptagelar dalam Kasepuhan Banten Kidul
Kasepuhan Ciptagelar merupakan salah satu komunitas yang menjadi bagian dari Kesatuan Adat Banten Kidul. Pusatnya selama bertahun-tahun dikenal berada di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, di kawasan Pegunungan Halimun.
Secara administratif, Ciptagelar berada di Jawa Barat. Meski demikian, sejumlah penelitian mencatat bahwa masyarakatnya memiliki hubungan budaya yang kuat dengan kawasan Banten bagian selatan dan komunitas Kasepuhan lain yang hidup di sekitarnya.
Hubungan ini membuat identitas masyarakat tidak hanya ditentukan oleh alamat pada kartu tanda penduduk.
Batas administratif modern memisahkan Sukabumi, Bogor, dan Lebak, tetapi hubungan keluarga, adat, pertanian, dan sejarah perjalanan masyarakat sudah terbentuk jauh sebelum batas-batas tersebut dibuat.
Dalam Keputusan Bupati Sukabumi tahun 2021, keberadaan Masyarakat Kesatuan Adat Banten Kidul di Kabupaten Sukabumi secara resmi diakui. Keputusan tersebut menyebut tiga kasepuhan, yaitu Kasepuhan Ciptamulya, Kasepuhan Sinar Resmi, dan Kasepuhan Ciptagelar.
Pengakuan itu menunjukkan bahwa Ciptagelar berdiri sebagai salah satu kesatuan adat tersendiri, tetapi sekaligus berada dalam identitas yang lebih luas, yaitu Kasepuhan Banten Kidul.
Hubungan Sejarah dan Asal-Usul Leluhur
Hubungan Ciptagelar dengan komunitas Kasepuhan lainnya tidak hanya muncul karena mereka tinggal berdekatan. Masyarakat juga memiliki cerita asal-usul dan ingatan kolektif yang saling terhubung.
Dalam tradisi lisan, leluhur masyarakat Kasepuhan sering dikaitkan dengan Kerajaan Sunda Pajajaran.
Setelah melalui berbagai peristiwa, kelompok-kelompok leluhur dipercaya berpindah ke kawasan Bogor, Banten Selatan, dan Sukabumi, lalu membangun pusat permukiman masing-masing.
Penelitian UIN Banten mencatat cerita tentang para tokoh adat yang berpencar dan mendirikan kasepuhan dengan tugas serta kewenangan berbeda. Tugas tersebut kemudian diwariskan secara turun-temurun kepada generasi berikutnya.
Kisah ini perlu ditempatkan sebagai sejarah tutur masyarakat. Rincian nama, waktu, dan jalur perpindahannya tidak selalu sama dalam setiap sumber. Belum semua bagian kronologi dapat dibuktikan melalui dokumen tertulis sezaman.
Namun, tradisi lisan tetap mempunyai fungsi penting. Cerita tersebut menjelaskan bagaimana masyarakat memahami hubungan mereka, mengapa sejumlah kasepuhan memiliki adat yang mirip, dan mengapa ikatan antarkomunitas masih dijaga sampai sekarang.
Pancer Pangawinan dalam Sejarah Ciptagelar
Dalam penuturan komunitas, perjalanan Ciptagelar juga berkaitan dengan kelompok Pancer Pangawinan. Istilah ini merujuk pada garis masyarakat yang dikaitkan dengan perjalanan dari Tarikolot Cipatat di Bogor.
Situs resmi Kasepuhan Gelaralam, yang disebut sebagai kelanjutan atau pergantian nama dari Ciptagelar, menjelaskan bahwa Pancer Pangawinan kemudian berhubungan dengan beberapa garis kasepuhan di sekitar Banten dan Sukabumi.
Mereka dipersatukan oleh kewajiban menjaga tali paranti karuhun.
Hubungan tersebut tidak selalu berarti semua komunitas berada di bawah satu komando. Ikatannya lebih menyerupai hubungan leluhur, kebudayaan, dan tanggung jawab adat yang memiliki akar bersama.
Ciptagelar Bukan Pemimpin Tunggal Semua Kasepuhan
Beberapa publikasi menyebut Ciptagelar sebagai pusat pemerintahan adat atau kampung gede. Istilah ini dapat menimbulkan kesan bahwa Ciptagelar memimpin seluruh Kasepuhan Banten Kidul di Sukabumi, Bogor, dan Lebak.
Penjelasan tersebut perlu dibaca sesuai konteks. Ciptagelar memang menjadi pusat bagi komunitas dan kampung-kampung yang mengakui kepemimpinan adat dari garis Ciptagelar.
Di dalamnya terdapat Abah sebagai pemimpin, baris kolot, serta para pemangku adat dengan tugas masing-masing.
Namun, komunitas seperti Sinar Resmi, Ciptamulya, Cisungsang, Citorek, Cisitu, Cicarucub, dan kasepuhan lainnya juga memiliki kepemimpinan serta struktur adat sendiri.
Masing-masing dapat mempunyai Abah, wilayah pengikut, kalender kegiatan, dan kebijakan internal yang berbeda.
Kajian etnolinguistik terhadap Ciptagelar, Ciptamulya, dan Sinarresmi memperlihatkan bahwa ketiganya memiliki sistem kepengurusan adat masing-masing.
Pada saat yang sama, penelitian tersebut menemukan banyak kesamaan istilah dan konsep kehidupan dalam bidang kepemimpinan, kepercayaan, serta ritual.
Dengan demikian, Kasepuhan Banten Kidul tidak sebaiknya dibayangkan seperti organisasi modern yang memiliki satu kantor pusat dan cabang-cabang. Hubungannya lebih cair, berdasarkan kekerabatan, kesamaan nilai, penghormatan antarpemimpin, dan warisan leluhur.
Tatali Paranti Karuhun sebagai Pengikat Utama
Salah satu unsur yang menyatukan Ciptagelar dengan Kasepuhan Banten Kidul adalah prinsip tatali paranti karuhun. Secara sederhana, istilah tersebut berarti ikatan terhadap tata cara dan kebiasaan para leluhur.
Prinsip ini mencakup banyak bagian kehidupan. Aturan adat tidak hanya diterapkan ketika upacara berlangsung, tetapi juga memengaruhi cara bertani, mendirikan rumah, memilih waktu kegiatan, menjaga hutan, menyimpan makanan, dan membangun hubungan sosial.
Bagi masyarakat Kasepuhan, adat bukan pertunjukan yang hanya ditampilkan saat wisatawan datang. Adat adalah pedoman yang digunakan untuk menjalani kehidupan sehari-hari.
Meski memiliki dasar yang sama, penerapannya dapat berbeda pada setiap kasepuhan. Hal ini sejalan dengan ungkapan Sunda, ciri sabumi cara sadesa, yang kurang lebih berarti setiap tempat mempunyai ciri dan tata caranya sendiri.
Karena itu, kesamaan akar budaya tidak menghapus keragaman. Ciptagelar dapat menggunakan aturan tertentu, sementara Cisungsang atau Citorek mempunyai rincian pelaksanaan berbeda. Perbedaan tersebut tidak otomatis memutus hubungan di antara mereka.
Budaya Padi yang Menyatukan Kasepuhan
Padi merupakan salah satu pengikat paling kuat antara Ciptagelar dan komunitas Kasepuhan Banten Kidul. Pertanian tidak dipandang hanya sebagai kegiatan ekonomi, melainkan sebagai bagian dari hubungan manusia dengan alam, leluhur, dan Sang Pencipta.
Di Ciptagelar, penanaman padi umumnya dilakukan satu kali dalam setahun. Warga menggunakan benih lokal dan mengikuti tahapan adat sejak mempersiapkan lahan, menanam, memanen, hingga menyimpan padi di dalam leuit atau lumbung tradisional.
Pola serupa dapat ditemukan di Kasepuhan Sinar Resmi dan Ciptamulya. Penelitian tentang Kasepuhan Banten Kidul di Kecamatan Cisolok juga menemukan kesamaan istilah ritual pertanian, termasuk Seren Taun sebagai puncak dari rangkaian kegiatan bercocok tanam.
Namun, Seren Taun bukan hanya pesta panen. Upacara tersebut menjadi ruang untuk memperkuat hubungan keluarga, menghormati padi, mengevaluasi perjalanan pertanian, dan menyampaikan rasa syukur.
Tanggal serta susunan acaranya dapat berbeda di setiap kasepuhan. Masing-masing mengikuti keputusan pemimpin adat dan perhitungan kalender yang berlaku di komunitasnya.
Leuit sebagai Simbol Ketahanan Bersama
Kesamaan lain terlihat pada penggunaan leuit. Padi hasil panen disimpan dalam bentuk gabah agar dapat bertahan lebih lama dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Di pusat kasepuhan biasanya terdapat pula lumbung komunal yang mempunyai fungsi sosial dan ritual. Keberadaan lumbung memperlihatkan bahwa ketahanan pangan dibangun melalui kebiasaan menyimpan, bukan hanya mengejar hasil panen sebanyak-banyaknya.
Sistem ini membantu masyarakat menghadapi musim yang kurang baik. Padi lama tetap tersimpan, sementara benih lokal dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Kesamaan dalam Menjaga Hutan dan Wilayah Adat
Hubungan Ciptagelar dengan Kasepuhan Banten Kidul juga terbentuk melalui kesamaan ruang hidup.
Banyak komunitas tersebut tinggal di sekitar Pegunungan Halimun-Salak, sebuah kawasan yang penting bagi sumber air, pertanian, keanekaragaman hayati, dan kehidupan spiritual masyarakat.
Dalam tata kelola adat, hutan umumnya dibagi berdasarkan fungsi. Ada kawasan yang harus dijaga ketat, kawasan cadangan, dan wilayah yang dapat dimanfaatkan untuk kebun, huma, sawah, atau kebutuhan sehari-hari.
Pengistilahan dan aturan terperinci dapat berbeda di setiap tempat. Namun, gagasan dasarnya sama: alam tidak boleh digunakan tanpa batas.
Hubungan dengan kawasan Halimun juga menghadirkan persoalan. Sebagian wilayah adat, permukiman, sawah, kebun, dan hutan yang dikelola masyarakat bertumpang tindih dengan kawasan negara, termasuk Taman Nasional Gunung Halimun-Salak.
Penelitian mengenai konflik sumber daya hutan mencatat bahwa Kasepuhan Ciptagelar, Sinar Resmi, dan komunitas lain mengalami persoalan akibat perbedaan klaim serta cara memandang fungsi kawasan.
Masyarakat menganggap wilayah tersebut sebagai ruang hidup yang diwariskan leluhur, sedangkan pemerintah menempatkannya dalam tata kelola kawasan hutan negara.
Pengalaman yang mirip membuat sejumlah kasepuhan mempunyai kepentingan bersama dalam memperjuangkan pengakuan wilayah adat dan hak mengelola sumber daya alam.
Pengakuan Hukum Memperkuat Identitas Bersama
Pada 16 November 2021, Bupati Sukabumi menetapkan keputusan mengenai pengakuan keberadaan Masyarakat Kesatuan Adat Banten Kidul di Kabupaten Sukabumi.
Dokumen tersebut secara khusus mengakui Kasepuhan Ciptamulya, Sinar Resmi, dan Ciptagelar. Ketiganya berada di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi.
Pengakuan ini penting karena identitas adat tidak cukup hanya dikenal melalui festival atau kegiatan pariwisata. Masyarakat juga membutuhkan kepastian mengenai kelembagaan, wilayah, hak tradisional, dan keterlibatan dalam pengambilan keputusan.
Meski demikian, keputusan tersebut berfokus pada komunitas yang berada di Kabupaten Sukabumi. Kasepuhan Banten Kidul secara budaya memiliki jangkauan yang lebih luas, termasuk komunitas yang berada di Kabupaten Lebak dan Bogor.
Karena berada di wilayah pemerintahan yang berbeda, proses pengakuan hukumnya juga harus dilakukan melalui kebijakan daerah masing-masing. Inilah contoh bagaimana satu komunitas budaya dapat melintasi beberapa batas administratif modern.
Apakah Ciptagelar Sama dengan Masyarakat Baduy?
Ciptagelar dan masyarakat Baduy sama-sama merupakan komunitas adat Sunda yang mempertahankan warisan leluhur. Keduanya juga memiliki hubungan kuat dengan pertanian dan kelestarian alam.
Namun, keduanya bukan komunitas yang sama. Masyarakat Baduy atau Kanekes mempunyai wilayah, struktur kepemimpinan, aturan, pakaian, serta sistem sosial tersendiri di Kabupaten Lebak.
Ciptagelar merupakan bagian dari jaringan Kasepuhan Banten Kidul dan memiliki kepemimpinan adat yang disebut Abah. Komunitas ini juga dikenal lebih terbuka dalam menggunakan teknologi seperti listrik mikrohidro, radio, televisi komunitas, dan internet.
Perbedaan tersebut penting dipahami agar semua masyarakat adat di wilayah Banten dan Jawa Barat tidak dianggap mempunyai kebiasaan yang seragam. Setiap komunitas memiliki sejarah dan kewenangan untuk menjelaskan identitasnya sendiri.
Perjalanan dari Ciptagelar Menuju Gelaralam
Nama Ciptagelar telah dikenal luas sebagai salah satu pusat budaya Kasepuhan. Namun, perjalanan komunitas tidak berhenti pada satu nama dan satu lokasi.
Situs resmi komunitas saat ini menyebut Kasepuhan Gelaralam sebagai pergantian nama dari Kasepuhan Ciptagelar. Perubahan tersebut berkaitan dengan tradisi ngalalakon, yaitu perjalanan atau perpindahan pusat kasepuhan berdasarkan petunjuk yang diterima oleh Abah.
Pergantian nama tidak menghapus hubungan dengan Kasepuhan Banten Kidul. Sebaliknya, hal itu memperlihatkan bahwa identitas masyarakat adat dapat terus bergerak sambil mempertahankan prinsip utamanya.
Nama Ciptagelar tetap penting dalam sejarah. Ia menandai fase ketika komunitas semakin dikenal oleh masyarakat luar, sedangkan Gelaralam melanjutkan perjalanan adat pada fase berikutnya.
Hubungan Ciptagelar dengan Kasepuhan Banten Kidul terbentuk melalui akar sejarah, wilayah hidup, budaya padi, kepemimpinan adat, serta prinsip tatali paranti karuhun.
Ciptagelar merupakan salah satu kasepuhan dalam jaringan tersebut, bukan nama lain untuk seluruh komunitas Banten Kidul.
Setiap kasepuhan mempunyai Abah, struktur, wilayah, dan perjalanan masing-masing. Namun, mereka dipertemukan oleh nilai yang serupa, seperti penghormatan terhadap leluhur, penyimpanan padi di leuit, penyelenggaraan Seren Taun, dan kewajiban menjaga alam.
Memahami hubungan ini membantu kita melihat masyarakat adat secara lebih utuh. Mari pelajari kebudayaannya dari sumber yang bertanggung jawab, hormati perbedaan setiap kasepuhan, dan dukung upaya mereka menjaga wilayah serta warisan leluhur.
FAQ
1. Apakah Ciptagelar bagian dari Kasepuhan Banten Kidul?
Ya. Ciptagelar merupakan salah satu kasepuhan yang termasuk dalam Kesatuan Adat Banten Kidul, khususnya di wilayah Kabupaten Sukabumi.
2. Apa saja Kasepuhan Banten Kidul di Kabupaten Sukabumi?
Keputusan Bupati Sukabumi tahun 2021 menyebut tiga komunitas, yaitu Kasepuhan Ciptamulya, Sinar Resmi, dan Ciptagelar.
3. Apakah Ciptagelar memimpin semua Kasepuhan Banten Kidul?
Tidak dalam arti pemerintahan terpusat. Ciptagelar memiliki pemimpin dan jaringan pengikut sendiri, sedangkan kasepuhan lain juga mempunyai Abah serta struktur adat masing-masing.
4. Mengapa disebut Banten Kidul jika Ciptagelar berada di Jawa Barat?
Istilah tersebut mengacu pada identitas budaya dan sejarah masyarakat di kawasan selatan Banten serta Pegunungan Halimun. Jaringannya telah ada sebelum batas provinsi modern dan melintasi Sukabumi, Bogor, serta Lebak.
5. Apakah Ciptagelar dan Baduy merupakan komunitas yang sama?
Tidak. Keduanya sama-sama masyarakat adat Sunda, tetapi memiliki asal-usul, wilayah, kepemimpinan, dan aturan adat yang berbeda.