Bagi sebagian petani, menanam padi mungkin dimulai ketika hujan turun dan lahan sudah siap. Namun, bagi masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar, awal musim tanam tidak sesederhana menentukan hari lalu membawa benih ke ladang.
Ada aturan, perhitungan musim, persiapan lahan, doa, pembagian tugas, hingga prosesi bersama yang harus dijalankan. Semua itu terangkum dalam sebuah tradisi bernama Ngaseuk.
Tradisi Ngaseuk merupakan kegiatan menanam benih padi di huma atau ladang kering menggunakan alat kayu yang disebut aseuk. Prosesi ini sekaligus menandai dimulainya musim penanaman padi bagi masyarakat Kasepuhan.
Ngaseuk bukan hanya aktivitas pertanian. Di dalamnya terdapat penghormatan terhadap padi, tanah, air, hutan, leluhur, serta Sang Pencipta. Tradisi tersebut juga memperlihatkan bagaimana gotong royong masih menjadi bagian penting dari kehidupan warga.
Melalui Ngaseuk, masyarakat Ciptagelar mengajarkan bahwa menanam pangan bukan sekadar mengejar hasil panen. Ada tanggung jawab untuk merawat alam yang memungkinkan padi tumbuh.
Apa Itu Tradisi Ngaseuk?
Kata Ngaseuk berasal dari kata aseuk, yaitu tongkat kayu dengan salah satu ujung yang diruncingkan. Alat tersebut digunakan untuk membuat lubang-lubang kecil pada tanah sebelum benih padi dimasukkan.
Ngaseuk secara khusus merujuk pada penanaman padi di huma, yaitu lahan kering yang umumnya mengandalkan hujan. Hal ini berbeda dengan penanaman bibit padi di sawah basah yang dikenal dengan istilah tandur.
Saat Ngaseuk berlangsung, benih tidak lebih dahulu disemai seperti bibit padi sawah. Bulir padi dimasukkan langsung ke dalam lubang yang dibuat dengan aseuk, kemudian ditutup menggunakan tanah.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu tahapan terpenting dalam siklus pertanian adat. Ngaseuk menandai bahwa masa persiapan telah selesai dan kehidupan benih di dalam tanah segera dimulai.
Situs resmi komunitas yang kini menggunakan nama Kasepuhan Gelaralam menjelaskan bahwa Ngaseuk dilaksanakan setiap tahun.
Warga yang telah berkeluarga juga mempunyai kewajiban untuk menjalankan kegiatan pertanian sesuai aturan adat yang diwariskan para leluhur.
Persiapan Ngaseuk Dimulai Jauh Sebelum Menanam
Prosesi Ngaseuk tidak terjadi secara tiba-tiba. Sebelum benih dibawa ke huma, masyarakat telah melewati rangkaian panjang untuk menentukan musim dan menyiapkan lahan.
Waktu pertanian dibaca melalui tanda-tanda alam, termasuk kemunculan Bintang Kerti dan Bintang Kidang. Kerti dikaitkan dengan gugus Pleiades, sedangkan Kidang berhubungan dengan rasi Orion.
Kemunculan Kerti menjadi pengingat untuk mempersiapkan alat-alat pertanian. Ketika Kidang berada pada posisi tertentu, masyarakat mulai mengolah tanah dan menyiapkan huma untuk ditanami.
Jadwal tidak ditentukan sendiri-sendiri hanya karena seseorang merasa lahannya sudah siap. Keputusan awal berada dalam koordinasi pemimpin serta pemangku adat yang bertanggung jawab terhadap urusan pertanian.
Menyiapkan Lahan Huma
Kajian mengenai budaya padi Ciptagelar mencatat bahwa persiapan huma dapat berlangsung sekitar lima sampai tujuh hari sebelum Ngaseuk. Tahapannya antara lain nyacar, ngahuru, dan ngaduruk.
Nyacar merupakan kegiatan membersihkan rumput dan semak di lahan. Tumbuhan yang telah mengering kemudian dibakar dalam tahap ngahuru, sedangkan sisa yang belum terbakar dikumpulkan dan dibakar kembali saat ngaduruk.
Abu dari proses tersebut dimanfaatkan sebagai pupuk di lahan. Gundukan abu pada beberapa bagian juga dapat digunakan untuk menanam tanaman pendamping seperti labu, mentimun, sawi, atau jenis sayuran lainnya.
Masyarakat tidak selalu membersihkan seluruh tumbuhan tanpa batas. Pohon-pohon besar tertentu tetap dibiarkan, sehingga huma tidak sepenuhnya berubah menjadi lahan terbuka yang kehilangan vegetasi.
Pola ini menunjukkan bahwa Ngaseuk berkaitan dengan sistem budidaya yang lebih luas. Sebelum menanam, masyarakat harus memahami lahan, musim, tumbuhan, dan batas pemanfaatan kawasan.
Rangkaian Tradisi Ngaseuk di Huma Rurukan
Ngaseuk biasanya dimulai lebih dahulu di huma rurukan, yaitu ladang yang berkaitan dengan pusat Kasepuhan. Setelah prosesi pembuka dilaksanakan, warga dapat melakukan kegiatan serupa di huma keluarga masing-masing.
Dalam dokumentasi Common Room, kegiatan penanaman diawali oleh Abah bersama masyarakat.
Warga menuju huma, membuat lubang tanam, lalu memasukkan benih sesuai urutan adat. Waktu pelaksanaan di lahan keluarga dapat disesuaikan dengan perhitungan yang berlaku bagi pemiliknya.
Prosesi utamanya memang berlangsung pada pagi hari. Namun, rangkaian acara sudah dimulai sejak malam sebelumnya melalui selamatan dan kegiatan adat di pusat Kasepuhan.
Kajian etnografi ITB mendokumentasikan tiga bagian penting, yaitu persiapan benih atau murabini, selamatan Ngaseuk yang disertai pantun, serta penanaman di huma pada keesokan harinya.
Murabini merupakan proses melepaskan bulir padi dari tangkainya untuk dijadikan benih. Benih huma tidak direndam seperti benih untuk sawah, tetapi dipersiapkan dalam keadaan kering lalu disimpan dengan hati-hati.
Pada malam selamatan, doa dipanjatkan dan pantun buhun dapat dibawakan dengan iringan kecapi. Pantun di lingkungan Kasepuhan bukan sekadar hiburan, melainkan media penyampaian cerita, nilai, dan hubungan masyarakat dengan warisan karuhun.
Keesokan paginya, benih serta perlengkapan prosesi dibawa menuju huma rurukan. Setelah doa pembuka dan penanaman benih pertama selesai, seluruh warga mulai bekerja bersama.
Cara Menanam Padi Menggunakan Aseuk
Alat utama dalam tradisi ini berbentuk sederhana. Aseuk dibuat dari batang kayu yang cukup kuat, nyaman digenggam, dan diruncingkan pada bagian ujungnya.
Pengguna menancapkan aseuk ke tanah untuk membuat lubang kecil. Benih padi kemudian dijatuhkan ke lubang tersebut dan ditutup kembali agar dapat tumbuh.
Karena prosesnya dilakukan langsung pada lahan kering, teknik ini berbeda dari tandur. Pada sistem sawah, bibit yang sebelumnya ditumbuhkan di tempat persemaian dipindahkan ke tanah berlumpur.
Dalam prosesi di huma rurukan yang didokumentasikan melalui kajian etnografi, laki-laki bertugas menancapkan tongkat dan membuat lubang. Perempuan kemudian memasukkan bulir padi ke dalam lubang tersebut.
Pembagian itu membuat pekerjaan berlangsung seperti irama yang teratur. Barisan pembuat lubang bergerak lebih dahulu, kemudian diikuti barisan yang membawa dan menanam benih.
Penanaman tidak selalu dilakukan dengan bergerak sembarangan. Dalam dokumentasi yang sama, warga bergerak mengitari titik pusat huma searah jarum jam, mulai dari bagian luar menuju ke tengah.
Gerakan tersebut dikaitkan dengan konsep ngala suwung, yaitu usaha memohon keselamatan dan keselarasan. Dengan demikian, pola gerak di lahan pun mempunyai makna, bukan semata-mata pilihan teknis.
Benih Pertama sebagai Pembuka
Sebelum penanaman massal dimulai, Abah dan pendampingnya menjalankan prosesi benih pembuka. Sepasang bulir padi yang disebut sakuren dipilih dan ditanam lebih dahulu pada tempat yang telah disiapkan.
Setelah benih pembuka berada di tanah, barulah masyarakat menanam bersama-sama. Angklung buhun dapat dimainkan untuk mengiringi kegiatan hingga proses Ngaseuk selesai.
Suasana tersebut membuat huma tidak hanya menjadi ruang produksi pangan. Lahan berubah menjadi tempat pertemuan antara pekerjaan, doa, kesenian, dan kebersamaan masyarakat.
Makna Spiritual di Balik Tradisi Ngaseuk
Ngaseuk sering disebut pula sebagai momen nibakeun Sri ka bumi, yang kurang lebih berarti menjatuhkan atau menyerahkan Sri kepada bumi. Sri atau Sri Pohaci merupakan penyebutan yang berkaitan dengan padi dalam pandangan budaya masyarakat Kasepuhan.
Padi tidak diperlakukan sebagai benda mati yang hanya dibutuhkan ketika lapar. Ia dihormati sebagai sumber kehidupan yang harus ditanam, dirawat, dipanen, dan disimpan dengan tata cara tertentu.
Penghormatan tersebut bukan berarti masyarakat menyembah padi. Prinsipnya sering dirangkum melalui ungkapan mupusti pare, lain migusti, yaitu memuliakan padi tanpa menjadikannya sebagai Tuhan.
Doa yang dijalankan sebelum menanam juga mengandung permohonan izin. Masyarakat menyadari bahwa kegiatan pertanian melibatkan tanah, air, udara, hujan, hutan, hewan, tumbuhan, dan berbagai unsur kehidupan lainnya.
Setelah benih dimasukkan ke tanah, manusia tidak sepenuhnya mengendalikan hasilnya. Tanah menjadi tempat tumbuh, hujan menyediakan air, sinar matahari membantu perkembangan tanaman, sedangkan lingkungan sekitar menjaga keseimbangan ekosistem.
Pandangan tersebut membuat petani ditempatkan sebagai bagian dari alam, bukan penguasa tunggal atas alam. Manusia boleh memanfaatkan tanah, tetapi juga mempunyai kewajiban untuk menjaga kesuburan dan tidak menggunakannya secara berlebihan.
Karena itu, masyarakat Kasepuhan umumnya menanam padi satu kali dalam setahun. Tanah diberi kesempatan untuk beristirahat sebelum kembali digunakan pada siklus berikutnya.
Gotong Royong sebagai Kekuatan Utama Ngaseuk
Membuat lubang dan memasukkan benih satu per satu tentu membutuhkan banyak tenaga. Pekerjaan akan terasa berat apabila hanya dilakukan oleh satu keluarga.
Ngaseuk menjadi lebih ringan karena warga mengerjakannya secara gotong royong. Masyarakat datang ke huma, membawa perlengkapan, membantu menanam, menyiapkan makanan, serta menjalankan tugas kesenian dan ritual.
Kerja sama tidak selalu dihitung menggunakan upah. Tenaga yang diberikan kepada keluarga atau komunitas akan dibalas dalam bentuk bantuan ketika warga lain memasuki jadwal penanaman.
Sistem tersebut memperkuat hubungan sosial. Orang tidak hanya hadir sebagai tetangga yang tinggal berdekatan, tetapi juga sebagai bagian dari komunitas yang mempunyai tanggung jawab bersama.
Setelah penanaman di huma rurukan selesai, warga biasanya makan bersama. Dalam dokumentasi etnografi, hidangan disiapkan sejak malam di dapur Imah Gede dan dibawa ke lokasi kegiatan pada pagi hari.
Makan bersama menjadi penutup yang sederhana, tetapi bermakna. Setelah bekerja di bawah matahari, seluruh peserta duduk dalam suasana yang lebih santai sambil menikmati makanan dari hasil kerja kolektif.
Kesenian juga mempunyai peran penting. Angklung buhun bukan sekadar musik latar untuk membuat acara lebih meriah. Para pemainnya menjalankan tugas budaya dan membantu menjaga suasana sakral sekaligus komunal sepanjang kegiatan.
Setelah Ngaseuk, Padi Memasuki Tahap Perawatan
Selesainya Ngaseuk bukan berarti pekerjaan pertanian berakhir. Benih yang berada di tanah harus menunggu hujan, tumbuh, dan melewati berbagai tahap pemeliharaan.
Warga membersihkan tumbuhan pengganggu melalui kegiatan seperti ngoret, ngarambas, dan ngagombrang. Setiap tahap disesuaikan dengan kondisi padi dan perkembangan vegetasi di sekitarnya.
Sekitar satu minggu setelah tanaman mulai tumbuh, masyarakat menjalankan Sapangjadian Pare. Selamatan ini menyambut hadirnya padi yang muncul di atas permukaan tanah.
Hidangan berupa beragam bubur dapat disiapkan dalam acara tersebut. Prosesi ini menjadi ungkapan syukur karena benih yang sebelumnya diserahkan kepada bumi telah menunjukkan tanda kehidupan.
Sesudahnya, perjalanan padi masih sangat panjang. Tanaman akan dirawat, dilindungi dari gangguan, dipanen melalui tahap Mipit, dibawa melalui Ngunjal, lalu disimpan di dalam leuit.
Seluruh tahapan akhirnya menuju Nganyaran, Ponggokan, dan Seren Taun. Artinya, Ngaseuk bukan tradisi yang berdiri sendiri, melainkan pintu masuk menuju satu siklus budaya padi selama setahun.
Nilai yang Bisa Dipelajari dari Tradisi Ngaseuk
Masyarakat di luar Ciptagelar tentu tidak harus meniru seluruh prosesi Ngaseuk secara persis. Tradisi adat merupakan milik komunitas yang mempunyai sejarah, aturan, dan kewenangan sendiri.
Namun, nilai di dalamnya tetap relevan untuk dipelajari. Salah satunya adalah kebiasaan mempersiapkan musim tanam secara matang, bukan mengambil keputusan hanya karena ingin cepat memperoleh hasil.
Ngaseuk juga menunjukkan pentingnya benih lokal. Benih dipilih dari hasil panen sebelumnya, disimpan, lalu digunakan kembali sehingga masyarakat dapat menjaga varietas yang sesuai dengan kondisi lingkungan mereka.
Pelajaran berikutnya adalah menghormati kemampuan tanah. Produksi yang tinggi tidak akan bertahan lama apabila lahan terus dipaksa tanpa kesempatan untuk memulihkan kesuburannya.
Tradisi ini juga memperlihatkan bahwa ketahanan pangan tidak hanya dibangun dengan mesin dan teknologi. Hubungan sosial, penyimpanan benih, gotong royong, pengetahuan musim, dan kepatuhan terhadap batas alam memiliki peran yang tidak kalah penting.
Di tengah perubahan iklim, prinsip membaca tanda alam menjadi semakin relevan. Pengetahuan lokal dapat dipertemukan dengan data cuaca modern agar petani memperoleh informasi yang lebih lengkap ketika menentukan waktu menanam.
Tradisi Ngaseuk merupakan penanda dimulainya penanaman padi huma di Kasepuhan Ciptagelar. Dengan menggunakan aseuk, warga membuat lubang pada tanah dan memasukkan benih secara bergotong royong setelah prosesi pembuka dijalankan oleh pemimpin adat.
Di balik kegiatan tersebut terdapat pengetahuan tentang musim, pengolahan lahan, pemilihan benih, pembagian tugas, kesenian, dan penghormatan terhadap alam.
Ngaseuk mengingatkan bahwa padi tidak hanya membutuhkan kerja manusia, tetapi juga tanah, air, hujan, hutan, dan keseimbangan ekosistem.
Mari mengenal tradisi ini dengan sikap hormat. Saat menulis atau berkunjung, jangan memandang Ngaseuk hanya sebagai tontonan, tetapi sebagai pengetahuan hidup yang terus dijaga oleh masyarakat pemilik budayanya.
FAQ
1. Apa arti Ngaseuk?
Ngaseuk adalah kegiatan menanam benih padi di huma dengan cara membuat lubang menggunakan tongkat kayu runcing yang disebut aseuk.
2. Apa perbedaan Ngaseuk dan tandur?
Ngaseuk dilakukan di lahan kering menggunakan benih padi secara langsung. Tandur dilakukan di sawah basah dengan memindahkan bibit dari tempat persemaian.
3. Kapan tradisi Ngaseuk dilaksanakan?
Waktunya mengikuti kalender pertanian adat, posisi penanda langit, kondisi musim, dan keputusan pemimpin Kasepuhan. Karena itu, tanggal Masehinya dapat berubah.
4. Siapa yang memulai prosesi Ngaseuk?
Prosesi di huma rurukan dimulai oleh Abah sebagai pemimpin adat dengan didampingi pemangku adat dan anggota masyarakat.
5. Apa yang dilakukan setelah Ngaseuk?
Padi dirawat melalui beberapa tahap pembersihan lahan. Setelah tanaman tumbuh, masyarakat menjalankan Sapangjadian Pare sebelum melanjutkan rangkaian pertanian hingga panen dan Seren Taun.